Subulussalam – Ketua Himpunan Mahasiswa Muslim (HIMMAH) Kota Subulussalam, Muhammad Joni, menyayangkan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Subulussalam sejak sepekan terakhir.
Padahal, katanya, pasokan BBM di dua SPBU di Kota Subulussalam mulai berqangsung normal juga dalam seminggu terakhir pasca bencana banjir. Namun fakta di lapangan di lokasi SPBU terjadi antrian panjang kendaraan roa dua dan empat, mereka rela antri dari pagi sampai sore, dari malam sampai pagi.
Untuk mendapatkan BBM, masyarakat harus mengantri berjam-jam bahkan satu harian penuh, agar bisa mendapatkan BBM untuk kendaaraan mereka.
Kadang tak jarang pula mereka pulang tanpa mendapatkan BBM karena stok habis padahal sudah ngantri sampai berjam-jam lamanya. Anehnya lagi, meski pasokan BBM sudah lancar, tapi masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkanya.
Menurut Joni, kelangkaan ini diduga diakibatkan oleh keserakahan oknum-oknum yang menimbun BBM untuk keuntungan pribadi.
“Sayangnya, kita masih melihat seperti ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menimbun BBM untuk keuntungan pribadi. Padahal, kebutuhan masyarakat sangat besar,” kata Joni dalam pernyataan resminya, Selasa, 2 Desember 2025 terkait kelangkaan BBM di Subulussalam.
Joni mengaku mengamati bahwa di lapangan, orang-orang yang mengantri BBM adalah orang-orang yang sama, dan motor yang digunakan juga sama. Hal ini, menurutnya, membuktikan bahwa ada oknum-oknum yang bermain-main dengan kebutuhan masyarakat.
“Padahal hampir setiap hari BBM masuk ke kota Subulussalam di dua SPBU yaitu SPBU Oyon dan SPBU Kasman, seharunya jika para oknum ini tidak serakah kelangkaan ini tidak akan lama,” ucap Joni.
Untuk mengatasi masalah ini, Joni memberikan beberapa solusi kepada Pemerintah Kota Subulussalam, DPRK Subulussalam, dan Pertamina.
Pertama, menurut Joni, membuat tim khusus untuk mengawasi pengisian BBM. Jika ada orang yang dalam satu hari mengantri dua kali atau motor dengan plat kendaraan yang sama mengantri dua kali, maka lakukan tindakan langsung bila perlu pasang CCTV pemantau di dua SPBU tersebut
Kedua, memberikan suplai BBM ke Pertamini di setiap desa, misalnya 150 liter per desa, dengan harga jual lapangan 15k per liter. Jika permasalahan ini tidak cepat diatasi maka permasalahan ini akan terus menerus seperti ini,
“Pemerintah harus bertindak tegas dan transparan dalam mengatasi masalah ini. Kami berharap solusi-solusi ini dapat membantu mengatasi kelangkaan minyak di Kota Subulussalam, kepada kaum beak kami jugak agar lebih tenang dan sabar,” tutup Joni.[]




Kelangkaan karena banyak kendaraan dari luar Subulussalam.. Saat melintas juga mengisi BBM di Subulussalam. Sehingga kelangkaan BBM yg kita perkirakan akan normal dalam 3 hari. Menjadi lebih dari pada 4 hari. Karna dapat saya pastikan tidak ada yg menimbun BBM di Subulussalam..