Karya: Taufik Sentana*

Beberapa sahabat telah pergi
melampaui tahapan dunia
melewati batas kesementaraan.

Pada awalnya, terasa ingin berkabar
bagaimana gambar kelana disana
menembus sunyi kelam abadi
dengan bekalan saat hidup.

Satu persatu, seorang perseorang,
sahabat sahabat pergi beranjak
lewat sakit, musibah atau tetiba saja.
Terlukis sendiri sisa perjalanan diri
yang tentu semakin sempit.

Demikian pula kerabat keluarga, jiran-tetangga, masing masing telah menggenggam kadarnya.

Waktu yang rahasia itu teramat dekat memang, walau tak mesti tua atau sakit,
TakdirNya menggamit sesiapa saja yang daun ajalnya telah jatuh.

Saat waktu itu tiba tentu semua
jadi tampak tajam dan nyata,
disini kita tertidur dan terlena
seakan tiada yang Mengintai
sedang Pintu Abadi selalu terbuka.[]

*Penyuka prosa religi/sufistik.