ACEH UTARA – Dewan Mustasyar Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh, Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop), mengatakan kehadiran PAS berangkat dari keprihatinan berkaitan dengan kondisi demokrasi dan kontestasi politik.
“Saya mohon maaf. Secara pribadi, untuk hari ini belum tertarik berbicara kemenangan (Pemilu 2024), kalau kemenangan itu bukan keadilan yang dimenangkan, bukan makruf dan kebaikan yang menjadi menang,” kata Tu Sop pada Syukuran Akbar PAS Aceh di Kompleks Makam Sultan Malikussaleh, Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Rabu, 22 Februari 2023.
Baca juga: PAS Aceh Gelar Syukuran Akbar di Makam Sultan Malikussaleh, Ini Kata Tu Bulqaini
Menurut Tu Sop, terjun ke dunia politik adalah masuk ke sebuah rimba penuh godaan dan tantangan. Ibarat ombak atau badai. “Badainya (dalam politik) dua nama, yaitu godaan dan tantangan,” ucapnya.
Tu Sop menyebut hari ini kita melihat sebuah fenomena, di mana umat Islam adalah generasi yang sedang berada di era demokrasi. “Apa permasalahannya? Pertama, di dalam setiap kontestasi politik itu meng-update perpecahan dan permusuhan antarumat Islam. Sebesar-besar fitnah adalah perpecahan umat Islam, tapi harus tahu bahwa demokrasi sudah menjadi konsensus dunia, dan kita tidak bisa hindari,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Tu Sop, “PR” (pekerjaan rumah/tugas) PAS Aceh hadir bagaimana mengedukasi umat bahwa pesta demokrasi bukan ajang permusuhan. “Kapan itu bisa, apabila pelaku-pelaku politik adalah umat Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan hadis Rasulullah SAW menyebutkan ‘Perbedaan-perbedaan antarumatku itu rahmat. Tapi umatku, kalau bukan umatku jadi azab’. Artinya, kalau kita tidak mampu menjadikan perbedaan-perbedaan untuk saling memperkuat, maka perbedaan itu akan saling menghancurkan,” tuturnya.
“Semuanya ini harus diperbaiki oleh umat Nabi Muhammad. Siapa umat Nabi Muhammad? Mereka yang sukses iman, sukses akhlak dan adab. Dalam perjalanan politik, kita akan selalu mengkomunikasikan dan berkomunikasi atau interaksi. Tanpa akhlak, tanpa etika, dia (politik) berubah menjadi permusuhan dan perpecahan. Maka PAS hadir mengajarkan umat baik dia politisi maupun rakyat bagaimana beretika di dalam politik,” tegas Tu Sop.
Lihat pula: Ulama Kharismatik: Visi Partai PAS Aceh, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Politik
Tu Sop berharap semoga kontestasi politik dan perbedaan politik bukan penyebab perkelahian dan mendendam. “Jangan sampai dengan keluarga sendiri menjadi putus hubungan silaturahmi. Politik selesai, tapi permusuhan tidak terselesaikan. Tidak begitu orang muslim berpolitik, maka kehadiran PAS Aceh nilai bimbingan dan edukasi kepada umat itu hal yang terpenting, sehingga tidak mencoreng nama sesepuh dan para ulama,” ujarnya.[]




