Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaInspirasiTeknoBegini Trik Media...

Begini Trik Media Pembelajaran di Era Daring

KARANGBARU — Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh kembali bergulir. Pada Rabu, 28 Juli 2021 pukul 14.00 hingga 17.00 WIB, telah dilangsungkan webinar bertajuk “Tips dan Trik Media Pembelajaran di Era Digital”.

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital. “Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen guru dan siswa, dihadiri oleh sekitar 536 peserta daring ini, hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Nida Nidiana, Higher Primary Academic Coordinator Sekolah Madania; Dr. Mohammad Iqbal, S.Kom., MMSI, Dosen, Koordinator Riset & Pengembangan PSMA Online Universitas Gunadarma; Drs. Imran, Ketua IGI Provinsi Aceh; dan Jayanti Sari, S.H, Anggota DPRK Kab. Aceh Tamiang. Kamaratih bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan memberikan pengalamannya. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Pada Sesi pertama, Nida Nidiana menyampaikan generasi X yang lahir dari tahun 1965-1976, dilahirkan pada tahun awal berkembangnya teknologi dan informasi, seperti penggunaan personal computer (PC), video games, TV kabel, dan Internet. Cepat beradaptasi, di era serba wireless saat ini. Kedua ada Generasi Y (1977-1994) Generasi yang tidak bisa lepas dari gawai. Nyaris melakukan semua hal secara digital, mulai dari bertukar pesan, bekerja, hingga online dating. Ketiga, Generasi Z (1995-2012) Generasi paling melek teknologi sehingga akan dengan mudah menjelajah dunia maya untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Dan terakhir Generasi Alpha lalu Beta (di atas 2012) Generasi yang sudah mengenal teknologi sejak dari kandungan dan dilahirkan ke dunia.

Giliran pembicara kedua, Dr. Mohammad Iqbal, S.Kom., MMSI mengatakan pembelajaran digital ini adalah proses yang harus terencana, maka harus ditentukan dulu susunanya. Dalam strategi pembelajarn di pandemic ini kita dipaksa untuk pembelajaran secara daring menggunakan LMS perangkat lunak yang memanajemen proses pembelajaran. Untuk penyusunan strategi awalnya kita harus menetapkan tujuan pembelajaran yang rasional, kedua mengembangkan instrumen untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, dan ketiga menganalisa karakteristik karakteristik peserta.

Tampil sebagai pembicara ketiga, Drs. Imran menjelaskan tapi tetap dibutuhkan kembali literasi sekola anak-anak Indonesia. Secara sederhana literasi dasar diterjemahkan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan bentuk Bahasa tertulis.

Menurut Dr. Roger Farr, Tanpa membaca pendidikan akan ‘mati’. Membaca merupakan Batu loncatan bagi keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan kelak dalam masyarakat. Tanpa kemampuan membaca yang layak, keberhasilan di sekolah lanjutan dan di perguruan.

Pembicara keempat, Jayanti Sari, S.H, menuturkan pada bulan maret secara nasional keluarlah kebijakan bahwa aktivitas sekolah dilaksanakan secara daring/luring. Untuk persiapan dunia sendiri untuk persiapan teknologi ini para guru mempunyai masalah jaringan . Munculnya kebijakan baru di Indonesia ini munculah fenomena yang awalnya tatap muka menjadi secara daring.

Kamaratih selaku Key Opinion Leader menyampaikan harapannya dengan banyaknya populasi pengguna internet di Indonesia mari kita gunakan media digital untuk al-hal positif, konten-konten positif, informative dan sudah tervalidasi.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Seperti Erlina Dwi Nahzdifah yang bertanya apakah memungkinkan nanti tenaga pengajar akan digantikan oleh teknologi? Mengingat seperti saat ini banyak sekali ilmu yang mudah didapatkan di internet?

Narasumber Nida Nidiana menanggapi tidak bisa digantikan peran guru dengan teknologi. Guru masih tetap memegang peranan penting, Karena sebagai murid bagaimana guru kita sebagai role model. Tentu untuk anak-anak terutama anak tk/sd yang masih sungguh membutuhkan figure yaitu dengan mencontohkan guru nya. Pada online learning ini kita perlu memutar otak, bagaimana cara agar kita tidak menggantikan role model. Oleh karena itu kreatifitas dari guru sangat diperlukan, seperti metode–metode belajar, dan mengasah keterampilan secara kognitif dapat membantu. Karena guru memiliki karakter dan empati simpati yang tidak bisa digantikan dengan teknologi.

Webinar ini merupakan satu dari rangkaian webinar yang diselenggarakan di Kabupaten Aceh Tamiang. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang.[](ril)

Baca juga: