Oleh Taufik Sentana

Dengan situasi di tengah siaga musibah Korona sekarang ini, kita tetaplah memandang baik hari hari di depan. Dan Ramadan adalah sebaik baik ” stasiun” yang disiapkan Allah untuk kepentingan pribadi dan sosial kita.Artinya keadaan musibah  yang menyelimuti sebagian tempat di negeri kita, tidaklah mengurangi nilai Ramadan, bahkan menjadikan kita lebih menghayati dan lebih insyaf. Setidaknya Ramadan, dengan ibadah puasanya, dapat menguatkan ikatan spiritualitas kita yang selama ini tereduksi oleh kepentingan materialis dan capaian fisikis semata.

Untuk sampai pada amalan Ramadan yang lengkap dan utuh, kita memerlukan bekalan yang memadai untuk tiba di sana. Diantara bekalan itu adalah:

Pertama, kesadaran iman. Dalam makna bahwa puasa yang menjadi fokus dalam bulan ini sebagai wujud meyakini Yang Ghaib, meyakini adanya Kekuatan yang Tak Tampak dan Meyakini adanya kaitan hidup kita sekarang dengan kehidupan kita setelah ini.

Kedua, Ilmu. Yaitu khususnya yang berkaitan dengan ibadah puasa dan amal ibadah lainnya yang sejalan dengannya seperti, hal apa saja yang menghilangkan pahala puasa dan amalan apa tinggi nilainya dalam bulan ini.

Ketiga, Niat. Yaitu kesengajaan secara khusus dan dorongan hati untuk memaksimalkan amalan Ramadan sesuai kemampuan dan keadaan masing masing. Atau Menggambarkan dalam diri kita rangkaian amal ibadah yang akan kita tuntaskan, yang tentunya lebih baik dari tahun lalu.

Keempat, taubat. Yaitu dengan meyadari kesalahan diri yang lalu, baik secara individu ataupun sosial. Lalu beristighfar, meminta ampun, meminta maaf dan seterusnya melazimkan istighfar sebanyak mungkin.

Kelima, melatih amal-ibadah.  Dalam arti kita sudah mulai membiasakan diri dengan amalan dan ibadah yang disemarakkan pada bulan Ramadan. Dari berpuasa, membaca quran, bersedekah, membantu orang lain, shalat nafilah, berzikir dan menjaga lisan serta aspek lainnya.

Keenam, perencanaan. Ini lebih taktis dari niat di awal tadi. Perencanan ini meliputi rangkaian aktivitas (lengkap) yang akan kita tunaikan. Baik itu sebagai tugas individu, sosial, aktivitas dengan anggota keluarga, target amalan harian dan kegiatan lain yang mendorong kemajuan ibadah dan perkembangan diri ataupun perbaikan lingkungan.

Setelah melampaui ini, kita tinggal berharap agar kita disampaikan kepada Ramadan dan dapat menuntaskannya dengan baik serta membawa bekasnya ke bulan bulan yang lain. Dan ingatlah selalu Seruan Allah : ” Bersegeralah kamu sekalian untuk memperoleh ampunan dari Tuhan kamu dan mencapai surga yang dijanjikan”.[]

*Ikatan Dai Indonesia, Kab. Aceh Barat