Karya: Taufik Sentana*
Rindu telah menemukan tangkainya
Menjuntai, basah dan lembut.
Hasrat dendam telah tenggelam
Dan gairah telah tertawan.
Malam dan pagi
Memberi makna yang berbeda
Namun keduanya menjadi ayat
Pada jejak diri sehari hari.
Penantian, perjumpaan dan perpisahan
Semacam jalan cinta,
Yang di tengahnya
Ada pengorbanan, luka dan suka.
Tapi jiwa yang mencinta
Tak akan tercabik,
Segala rasa telah diaduk
Dalam cawan hidangan pengabdian.
Dua jiwa dan belahannya
Hanya isyarat perjumpaan
Bersanding pada kendara
Yang menuju ke ufuk para pecinta.
Dalam pada itu:
Senandung pedih dan perih
Atau penat dan letih
Yang ditemu kemudian
Bagai lukisan bahagia
Untuk terus dirampungkan.[]
*Dalam Lelaki yang Cemburu pada Waktu.


