MOTIVATOR muda dan akademisi IAI Al-Aziziyah Samalanga, Teungku Fakhrurrazi Marzuki, membagi tips membangun mahligai rumah tangga yang ideal. Salah satu hal penting menurutnya adalah membangun komunikasi yang baik dan saling menasehati.
“Santun dan perhatian penuh sang suami dalam menegur istru juga hal yang tidak boleh disepelekan. Lihatlah bagaimana sosok Syekh Syaqiq Al-Balkhi yang begitu santun dan mauizah hasanahnya dalam menegur kekhilafan istri,” katanya kepada portalsatu.com, Selasa, 1 November 2016.
Ia lantas mengisahkan riwayat Syekh Syaqiq Al-Balkhi yang wafat pada 194 Hijriyah atau 810 Masehi. Pernah suatu hari katanya Syekh Syaqiq membeli sebuah semangka untuk istrinya. Ketika sang istri menyantap buah semangka tersebut ternyata rasanya hambar. Rupanya istrinya marah karena semangka yang dibawa pulang suaminya tidak enak.
Namun, kata kandidat master UIN Ar-Raniry ini melanjutkan, respons Syekh Syaqiq sungguh luar biasa. Ia menanggapinya dengan penuh ketenangan atas amarah istrinya. Setelah selesai mendengar amarah istrinya ia malah bertanya dengan nada santun dan halus, “wahai istriku tercinta, kepada siapakah engkau marah? Kepada pedagang buahnyakah? Atau kepada pembelinya? Atau kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada yang telah menciptakan buah semangka itu?”
“Istri beliaupun terdiam dan dengan sunggingan sebuah senyuman, Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya. Biasanya seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik. Sedangkan pembelipun pasti akan memilih sesuatu yang terbaik pula. Bahkan begitu pula seorang petani, tentu saja dia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik,” katanya.
Teungku Fakhrurrazi melanjutkan ulasannya, “Maka sasaran kemarahanmu wahai istriku tercinta berikutnya yang tersisa, tidak lain hanyalah kepada yang menciptakan semangka itu..!”
Rupanya pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Tanpa terasa, terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya.
Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya dengan penuh lembut dan santun, “bertaqwalah wahai istriku. Terimalah apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Ini semua agar Allah SWT memberikan keberkahan pada kita, sambung Teungku Fakhrurrazi pada kisah hubungan Syekh Syaqiq dan istrinya.
Beliau melanjutkan kisah, setelah mendengar nasehat suaminya itu. Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan meridhai dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan.
“Sebuah ibrah (pelajaran) terpenting buat kita dalam kisah tersebut sangat banyak di antaranya membangun dakwah inter dan antarpersonal dalam keluarga, bersikap dan mauizah hasanahnya dalam menegur dan menasehati istri sebagai pedamping hidupnya. Sedangkan keywords (kata kunci)-nya dari cerita tersebut menerima anugerah dan pemberian Illahi secara ikhlas dan apa adanya. Sedangkan dalam perspektif istri menerima pemberian suami apa adanya jangan adanya apa. Semua itu hanya demi keberkahan dalam mengarungi bahtera rumah tangga,” ujar pria asal Lamlo, Pidie tersebut.[]




