Oleh: Murthalamuddin
Mengapa saya harus menegaskan “tidak ikut” Ya, karena memang saya tidak ikut. Jangan sampai nanti saya dicap “lhap darah” dalam kemenangan tersebut. Tapi, sebagai kawan saya bangga, kini Ampon yang sering kami panggil “Ketua” terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).
Menurut saya, Ampon adalah “ureung tuha” meski ia masih bisa dibilang muda. Ia ureung tuha yang bukan tuha layee, alias hana peutuha-tuha droe. Pengalaman membuktikan, kekalahan demi kekalahan telah menempanya menjadi seorang politikus yang tidak rapuh.
Kapasitasnya sebagai ureung tuha di Partai Gerindra tak terbantahkan, ia ketua yang belum tergantikan hingga sekarang. Di sini saya melihat Ampon itu tuha ulee punya kapasitas, tuha bulee ada wibawanya, tuha pangkee ada modalnya. Jadi, wajar ia tak tergoyahkan.
Awal saya mengenalnya adalah ketika bekerja sebagai wartawan dan Ampon Khalid selaku Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Lhokseumawe. Dari mitra kerja hubungan kami kemudian belanjut secara personal. Dulu sebagai wartawan dengan penghasilan pas pasan, saya sering numpang makan di rumahnya di Simpang Kutablang. Kesamaan pandangan soal Aceh mempersatukan kami. Diskusi diskusi panas biasa buat kami. Banyak tulisan saya tentang beringasnya konflik didukung beliau. Sehingga saya merasa punya “beking“.
Salah satunya ketika saya menulis fakta persidangan kasus pembunuhan Ampon Man sekeluarga di PN Lhoksukon. Kasus penuh rekayasa itu akhirnya semua tersangka divonis bebas. Media lain menulis secara sporadis. Tapi saya yang hadir pada tiap sidang menemukan banyak sisi dan fakta yang beda.
Hubungan kami terus bersemi pascatsunami dan perdamaian Aceh. Berlanjut dengan kerja-kerja politik. Kami juga bersama membangun sebuah media oposisi. Dan kami kalah dihimpit kekuasaan dan buruknya manajemen perusahaan itu. Saya juga menjadi tim sukses bayangan beliau di semua kekalahannya. Dimulai Pilkada 2006, berlanjut ke Pemilu 2009 beliau kembali kalah di Mahkamah Konstitusi (MK). 2014 kalah lagi di Pemilu legislatif (Pileg) di Daerah Pemilihan (DP) Aceh I. Kemudian maju sebagai Wagub Muzakir Manaf, kalah lagi.
Tapi pada Pileg 2019 saya nyaris tak terlibat apapun mendukung Ketua. Rupanya ketika saya tidak terlibat beliau menang. Artinya, saya turut menyumbang dalam kekalahan beliau, tapi tidak terlibat saat beliau menang. Hebatnya beliau menang di kampung saya dengan suara badan terbanyak dari semua caleg.
Pak Ketua boleh kalah dalam pertarungan pribadi. Tapi menang besar dalam memimpin partai. Sejak beliau menjadi nakhoda Gerindra Aceh. Partai ini mendapat tempat di pemilih Aceh. 2014 dengan 3 kursi di DPRA, 2 kursi DPR RI. Sebelumnya nol. 2019 malah meningkat pesat. Kini kader Gerindra menjadi salah satu wakil ketua di DPRA.
Sepanjang karier politik beliau, saya adalah teman kritis buat beliau. Saya blak-blakan jika tak suka dengan pola beliau, lagee crah meunan beukah. Kini setelah kemenangan beliau. Saya punya kesimpulan bahwa teguhlah pada cita. Jangan berhenti berjuang. Kekelahan demi kekalahan sebenarnya malah mendekatkan pada kemenangan. Jangan tanya musuh beliau. Beliau lumayan dibenci di kalangan elite dan politikus nasional. Statement statement-nya cenderung melawan arus. Gaya beliau yang “meu ampon” menambah khasanah alasan bagi pembencinya.
Yang saya tidak habis pikir dia tak pernah berubah. Di mata saya, dia politikus Aceh paling kontroversi. Soal loyalisnya juga cukup unik. Dia punya loyalis yang memujanya. Maka jangan heran bila ke rumahnya. Balai kecil di teras samping tak pernah sepi. Apakah dia royal uang? Jangan harap, dia kata orang-orang terkenal pelit uang. Tapi soal makan minum saya tak pernah bisa membayar makan dia.
Satu hal yang saya belajar dari Ampon Khalid. Dia selalu merasa telah menang dalam pertarungan. Walau kenyataannya “lagee talo Jeupang”. 6 kali pertarungan hanya 2 kali menang. Bagaimana dia punya energi? Saya tak bisa merangkumnya. Yang jelas dia tak pernah merasa kalah. Saya berharap seterusnya dia memenangkan pertarungan. Termasuk janji memperjuangkan kekhususan Aceh.
Sebagai kawan saya telah kalah. Karena tidak membantunya meraih kemenangan ini. Selamat kerja Ampon Ketua. Satu pesan saya. Sikap meu ampon di Senayan harus Ketua tunjukan sebagai Ampon pejuang. Jangan terlena oleh sanjungan dan pujian. Sebab kemenangan Ampon kemarin dipenuhi cacian dan makian. Tetaplah di jalur itu, siploh raga tri saboh raga bileh, siploh nyang beunci teuntee na sidroe nyang gaseh.
Saya ingin nama Ampon kelak ditulis dengan tinta emas sebagai Ampon Aceh Tulen. Sebagai politikus sekeras batu yang berjuang dalam jalur NKRI. Demi Aceh mulia. Kita sama sama mengagumi Hasan Tiro, ambil spirit istikamahnya. Jangan ikut ikutan para pengkhianat Hasan Tiro. Saya akan terus menjadi kawan kritis dari tanoh Deli. Ingat slogan kita dulu saat membangun media “Demi Aceh Bermartabat”.[]





