SUBULUSSALAM — Belasan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Gerakan Anak Subulussalam (GAS) mempelajari sejarah lahirnya Kota Subulussalam dari kabupaten induk Aceh Singkil, di SMA Plus Muhammadiyah, Sabtu malam, 17 Februari 2018.
Ketua Pembentukan Kota Subulussalam saat itu, H. Asmauddin tampil sebagai narasumber. Acara ini merupakan rangkaian Rekrut Anak Baru (RAB) yang baru bergabung dengan GAS yang sedang menjalani bimbingan dan pelatihan.
Di hadapan mahasiswa, Asmauddin menjelaskan sejarah panjang perjuangan sejumlah tokoh yang terlibat dalam melahirkan Kota Subulussalam dari Aceh Singkil.
Salah satu tokoh sentral, kata Asmauddin adalah almarhum H. Makmur Syahputra, Bupati Pertama Aceh Singkil, memberikan kontribusi besar terhadap terwujudnya Kota Subulussalam.
“Tanpa Pak Makmur Syahputra, Subulussalam tidak akan terwujud, luar biasa perjuangan dan support dana dari kabupaten induk sehingga Kota Subulussalam terbentuk,” kata mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh ini.
Asmauddin menjelaskan sejarah lahirnya daerah ini dimulai pada Desember 2006 saat Rancangan Undang-Undang Pembentukan Kota Subulussalam telah lahir berasal dari pemerintah disetujui DPR RI. Namun undang-undang baru berlaku apabila masuk lembaran negara.
“Pada 2 Januari 2007 baru masuk lembaran negara melalui undang-Undang Nomor 8 Tahun 2007 tentang pembentukan Kota Subulussalam,” ungkapnya.
Meski undang-undang tersebut telah lahir dan masuk lembaran negara, kata Asmauddin, aktivitas pemerintahan belum jalan karena belum ada pejabat yang ditunjuk dan diresmikan.
“Jadi kami katakan tentang sejarah lahirnya Kota Subulussalam itu, kalau secara politis, Desember 2006. Secara yuridis 2 Januari 2007 melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2007,” ujarnya.
“Tapi kalau mau secara yuridis de facto de jure itu 15 Juni 2007, karena saat itu pelantikan Pj Wali Kota Subulussalam pertama dan diresmikan di Anjongan Mon Mata Banda Aceh oleh Menkopolhukkam Widodo AS sebagai Mendagri “ad interim” menggantikan tugas-tugas Mendagri M. Ma'ruf yang sakit waktu itu,” kata Asmauddin.
Pj Wali Kota Subulussalam pertama ini menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa yang telah mengundang dirinya menjadi narasumber untuk menjelaskan sejarah lahirnya Kota Subulussalam kepada generasi muda.
“Harapan kami kepada adek-adek, sejarah jangan dilupakan. Sejarah itu tidak bisa diulang dan tidak bisa dilupakan,” kata Asmauddin.[] (*sar)




