Salah satu hadist yang menjadi pegangan sebagai referensi adalah menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Sebagian masyarakat ada yang menganggapnya sebagai hadist palsu dan menjadi kontroversial di tengah masyarakat, khususnya di dunia pendidikan.
Redaksi hadist tersebut adalah “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu sangatlah wajib atas setiap orang muslim”.
Dalam pandangan sebagian ulama hadist tersebut dikategorikan kepada hadist dhaif, tidak menggolongkannya kepada maudhu (palsu). Indikator (alasan) nya hadist itu telah diriwayatkan dalam banyak sanad. Salah satu di antaranya oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syibul Iman.
Para ulama ahli hadits menyebutkan di antara perawi hadits tersebut terdapat Abu Atikah, menurut ulama hadits beliau sebagai perawi dhaif, sehingga oleh ulama dalam menilai hadist itu telah muncul banyak pendapat ada yang mengklasifikasikannya kepada hadits dhaif, bathil atau tidak bersanad.
Menyikapi fenomena ini para ulama berpegang sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidh al-Mazi dalam kitab “Syakbul Iman Lil Baihaqi” menegaskan bahwa dikarenakan hadits ini memiliki banyak jalan (sanad), maka dari dhaif naik ke derajat hasan lighairihi. Beranjak dari tidak boleh bagi kita menjustifikasikan bahwa itu bukan hadits juga.[] Sumber: Kitab Sya' bul Iman Lil Baihaqi: IV:174.

