Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaBenarkah Mati Lampu?

Benarkah Mati Lampu?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan penggunaan kata mati lampu dan mati listrik. Banyak orang yang mengatakan mati lampu jika PLN memadamkan listrik dan ada pula yang mengatakan mati listrik. Akan tetapi, selama ini kata yang sering saya dengar adalah mati lampu. Apakah mati lampu itu, artinya semua lampu dimatikan oleh PLN sama halnya dengan mati listrik.

Di antara keduanya, bentuk manakah yang benar atau apakah kedua kata tersebut sama-sama boleh digunakan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata lampu adalah alat untuk menerangi, contohnya dalam kalimat: Halaman rumah berdinding bambu itu kelihatan agak gelap karena lampunya mati.

Arti kata listrik adalah daya atau kekuatan yang ditimbulkan oleh adanya pergesekan atau melalui proses kimia, dapat digunakan untuk menghasilkan panas atau cahaya, atau untuk menjalankan mesin. Contohnya dalam kalimat: Rumah itu belum mempunyai listrik.

Berdasarkan logika, mati lampu berarti semua lampu mati. Ini berarti yang lain (barang elektronik, seperti televisi, radio, kulkas, dsb.) masih menyala, sedangkan mati listrik semua barang elektronik mati. Agak aneh juga jika kita mengatakan mati lampu saat semua lampu dan barang-barang elektronik mati.

Kita seharusnya mengatakan mati listrik, bukan mati lampu karena kata mati listrik menyatakan semua lampu dan barang-barang elektronik mati, dan kata mati lampu menyatakan hanya lampu saja yang mati.

Ternyata, terjadi kesalahpahaman dengan kata mati lampu dan mati listrik. Orang-orang berpikir kalau mati lampu itu sama artinya dengan mati listrik dan yang mematikan bukan kita sendiri dengan kesadaran sendiri, tetapi dimatikan oleh PLN.

Kesalahan ini sudah sejak dari dulu. Saat listrik mati (mati listrik) banyak yang mengatakan lampu mati (mati lampu), padahal salah kaprah. Seperti halnya dengan masak nasi, yang selama ini digunakan untuk mengatakan memasak beras. Arti kata masak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sudah matang dan sudah waktunya untuk diangkat, seperti dalam kalimat: Nasi sudah masak, makanlah dulu. Sedangkan arti kata nasi adalah beras yang sudah dimasak, seperti dalam kalimat: Ia tidak mau makan nasi. Jadi, seharusnya kita mengatakan memasak beras.

Mengapa? karena salah satu fungsi imbuhan me- adalah membentuk kata kerja. Imbuhan me- +masak menjadi memasak (verba) yang artinya membuat (mengolah) panganan, makanan, dll. Beras artinya padi yang telah terkelupas kulitnya (yang menjadi nasi setelah ditanak).

Jadi, seharusnya kita mengatakan memasak beras bukannya masak nasi, karena jika kita menggunakan kata masak yang artinya matang dan nasi yang artinya beras yang sudah dimasak maka arti kata masak nasi tersebut tidaklah sama dengan memasak beras. Kata memasak beras artinya beras tersebut dimasak hingga menjadi nasi, sedangkan kata masak nasi, artinya nasi yang telah matang (nasi sudah matang kok dimasak).

Nah, setelah kita mengetahui arti kata mati listrik dan mati lampu, sekarang sebaiknya kita menggunakan kata mati listrik untuk menyatakan pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN bukannya kata mati lampu. Bagaimana menurut Anda?

Sumber: Lampung Post, 2 Maret 2011. Fadhilatun Hayatunnufus: Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Baca juga: