BANDA ACEH – Hobi Irwandi Yusuf terhadap dunia kedirgantaraan kembali menjadi pembahasan di Aceh. Setelah rencana membeli enam unit pesawat jenis Shark Aero bikinan Slovakia, kali ini suami Darwati A Gani ini juga disebut-sebut telah menandatangani kerjasama pembelian 50 pesawat N219 Nurtanio pabrikan PT Dirgantara Indonesia. Hal ini jelas mengejutkan semua pihak di tengah polemik pembahasan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) RAPBA 2018 yang belum berujung.
Penandatangan kerjasama ini dilaksanakan di Singapura dan turut disaksikan langsung oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno. Rencana pembelian 50 pesawat N219 ini menimbulkan tanda tanya besar. Alih-alih masuk dalam KUA PPAS, rencana pembelian pesawat dalam porsi besar tersebut juga diduga tidak pernah dibahas dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Aceh.
Lantas apakah benar Pemerintah Aceh memborong 50 unit pesawat produksi dalam negeri itu? portalsatu.com/ mengonfirmasi Karo Humas dan Protokoler Pemerintah Aceh, Mulyadi Nurdin, Kamis, 8 Februari 2018.
Menurut Mulyadi, 50 unit yang dimaksud adalah jumlah assembly di Aceh. Hal tersebut sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani dengan PT DI.
“Nanti PT DI yang jual (pesawat) ke pembeli,” kata Mulyadi.
Saat ditanya apakah assembly Aceh yang bakal merakit 50 unit pesawat N219 untuk dijual kembali, Mulyadi mengatakan, “Iya, PT DI akan merakit 50 unit pesawat untuk dipasarkan oleh mereka. Jadi bukan kita beli, tapi kita yang rakit di assembly Aceh nantinya.”
Sebelumnya diberitakan, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memenuhi undangan BUMN PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) ke Singapura dalam rangka menjalin kerja sama bidang kedirgantaraan, Rabu, 7 Februari 2018. Kerja sama tersebut bertujuan untuk menyinergikan dan mengoptimalkan rencana pengadaan pesawat dan pembangunan assembly linepesawat terbang N219 di Aceh.
Hal itu disampaikan Staf Khusus Gubernur Aceh, Hendri Yuzal, sebagaimana dikutip Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Mulyadi Nurdin, LC, MH, Rab, 7 Februari 2018.
Mulyadi menyebutkan, selain kerja sama dalam pendirian fasilitas assembly linepesawat terbang N219 di Aceh, kedua belah pihak juga menjalin kerja sama dalam hal pengembangan sumber daya manusia putra-putri daerah Aceh dalam rangka menunjang pembangunan bidang industri kedirgantaraan di Aceh.
“Rencana kerja sama ini sudah lama dirintis dan kita patut bersyukur karena salah satu BUMN besar di Indonesia seperti PT Dirgantara Indonesia berkeinginan untuk membuka assembly line pesawatnya di Aceh,” ujar Mulyadi Nurdin mengutip Hendri Yuzal.
Belakangan diketahui Pemerintah Aceh tidak hanya menjalin kerjasama untuk membuka assembly saja. Namun, dalam kegiatan itu diketahui Gubernur Aceh juga berencana membeli 50 pesawat terbang N219. Media tempo.co, Kamis, 8 Februari 2018, mencatat PT Dirgantara Indonesia (Persero) mendapatkan pesanan pembuatan pesawat N219 Nurtanio dari tiga pemerintah daerah (Pemda). Ketiga Pemda itu adalah Aceh, Kalimantan Utara, dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Dirgantara Indonesia (PTDI) mendapatkan pemesanan pesawat terbanyak dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh, yaitu mencapai 50 unit. Kemudian Pemprov Kalimantan Utara sebanyak dua unit. Sedangkan dengan Kabupaten Puncak Jaya memesan satu unit.[]

