PERJALANAN dalam menemukan kembali minyak cengkeh lewat tangan dingin M. Jamil biasa dipanggil Bang Min di negeri Simalur nama lain Simeulue yang merupakan pulau yang berada di barat Sumatera itu, bukanlah sebuah kebetulan, namun membutuhkan perjuangan.

Sosok Sulaiman sebagai sang anaknya beliau juga ikut serta dalam menghidup kembali aura kegemilangan minyak cengkeh di negeri Iskandar Muda ini.

Perjalanan mengembalikan marwah endatu itu, penuh lika liku, kesabaran dan harus berjuang secara sendiri tanpa campur tangan pemerintah yang seharusnya sedikit membuka mata untuk membantu masyarakat kecil, setidaknya akan memberi wacana baru dan pemberdayaan pemerintah Simeulu untuk masyarakat pinggiran.

Bang Min, panggilannya sebelum terjun ke dunia minyak cengkeh, sebelumnya mengadu nasib dengan mengolah kelapa menjadi minyak dan patarana (pliek U). Masyarakat Seumeulu yang kaya sumber daya alam, tidak mampu mengakses berbagai SDA itu menjadi berharga.

Namun sosok jiwa “Cina Hitam” Pidie yang melekat dan terpatri dalam jiwa Bang Min dan puteranya Sulaiman, mampu mengubah Simeulue sedikit tersenyum, kelapa yang banyak di daerah berpenduduk asli bermata sipit mirip negeri matahari terbit, diolah menjadi Pliek u dan minyaknya.

Bukan hanya itu saja, Bang Min untuk menjual pliek u di sana tidak laku di negeri itu. Rupanya usaha beliau mengundang penasaran masyarakat di sana termasuk salah satu NGO asing, bagaimana kelapa diolah untuk dipeubrok (peras menjadi minyak dan pliek e).

Sang perantau itu menjelaskan secara detil kepada mereka, NGO itu mengusulkan untuk diolah daun cengkeh yang berjatuhan dan hanya menjadi sampah di kebun dan perkarangan rumah masyarakat di sana terlebih Simeulue terkenal dengan daerah penghasil cengkeh terbesar di Aceh, di olah daun tersebut menjadi minyak. Sungguh Pliek e yang menuai berkah untuk Bang Min, kenapa tidak, menghantarkan beliau untuk menekuni beralih ke minyak cengkeh.

Ide dan motivator itu bagaikan gayung bersambut, NGO asing itu mengutus dua orang sebagaimana diutarakan oleh Teungku Sulaiman MJ ke Pulau Jawa sekitar tahun 2007 atau 2008 untuk belajar pengolahan daun cengkeh menjadi minyak tepatnya di Jogjakarta di bawah binaan NGO tersebut.

Beliaupun merasa bahagia mampu melangkah kaki ke Kota Pelajar dan Keraton Yogyakarta untuk mengubah nasib dengan belajar ilmu ba dan pengalaman baru pula. Waktu yang di janjikan lebih kurang setahun untuk menimba ilmu di sana, terlalu singkatkah untuk beliau?[]
Bersambung…