Sering muncul pertanyaan, “Bagaimana membuat tulisan yang baik?” Atau, “Kenapa di dalam menulis kita mesti menuruti rambu-rambu bahasa yang aturannya sangat banyak itu?”
Pertama-tama, penting kita sadari adanya perbedaan antara kemampuan bahasa dan kepiawaian berbahasa yang oleh Noam Chomsky disebut linguistic competence dan linguistic performance.
Dalam bahasa yang disederhanakan, kemampuan bahasa merujuk pada penguasaan seseorang atas ilmu bahasa atau linguistik. Sedang kepiawaian berbahasa menunjukkan kemampuan seseorang menggunakan bahasa di dalam sebuah tindak komunikasi.
Yang pertama, teoretis, lebih banyak diperoleh lewat studi di jalur pendidikan formal atau belajar sendiri, khusus bidang linguistik. Kedua, praktis, keterampilan mengolah bahasa untuk menyampaikan ide, perasaan, kabar, atau cerita kepada orang lain.
Kesanggupan ini pertama-tama mengandalkan atau bersandar pada intuisi dan akal sehat, bukan berbekal linguistik, ilmu bahasa.
Berbahasa dahulu, beraturan kemudian. Sejak sanggup berbicara, orang saling berhubungan memakai bahasa tanpa perlu terlebih dulu menguasai kaidah-kaidah atau sekian banyak teori dalam bahasa. Pendeknya, proses itu berjalan secara alamiah.
Seiring dengan bertambahnya umur, yang sekaligus berarti semakin banyak satuan-satuan bahasa baik lisan maupun tertulis terserap ke dalam ingatan seseorang, otak terus bekerja dalam proses rumit mengenali satuan-satuan bahasanya sebagai pola.
Melalui pola-pola itulah lambat-laun tumbuh pengertian bahwa bahasa berlangsung mengikuti aturan tertentu yang berbeda antara satu bahasa dan lainnya. Seorang anak usia prasekolah yang mulai agak lancar bicara, misalnya, amat mungkin tidak akan mengalimatkan keinginannya seperti ini, “Susu minum mau aku”.
Hal kedua yang perlu kita sadari adalah fakta bahwa bahasa terdiri atas dua ragam besar, tulis dan lisan. Masing-masing memiliki aturan main sendiri sekalipun terkadang bisa saling menerabas batas itu. Orang yang pandai menulis belum tentu mahir berbicara, demikian pula sebaliknya. Tentu ada juga yang memiliki sekaligus dua kesanggupan itu, menulis dan berbicara.
Dua ragam bahasa ini rapat bertautan dengan kemampuan bahasa dan kepiawaian berbahasa. Sedikit uraian di atas tidak sedang menerangkan, atau mencoba meyakinkan, bahwa kemampuan bahasa hanya diperlukan dalam bahasa tulis. Atau sebaliknya, bahwa kepiawaian berbahasa hanya kita dapati dalam bahasa lisan.
Dalam pertuturan lisan kaidah bahasa sering tak dipatuhi, bukan saja karena kaidah ini tidak disadari sebagai bagian dari bahasa itu sendiri, tapi juga karena tertanam sikap atau pendirian yang memandang bahasa tidak lebih penting dari apa yang hendak disampaikan.
Persoalannya pada ragam bahasa tulis sama sekali berbeda dan tidaklah sesederhana itu.[]
Sumber: beritagar.id



