Banyak yang akan tersesat karena tak tahu hendak kemana. Sedang hidup terus beranjak menjauh, menuju tepi dan berakhir. Ada yang tahu arah tujuannya tapi tak memahami maknanya. Ia menyangka bahwa makna adalah sebuah benda. Sebagaimana ia menyangka bahwa hidup akan habis begitu saja tanpa ada hitungan lain dan pertimbangan keabadian. Ia menyangka seluruh hidup adalah benda, gurauan dan kesenangan.

Maka banyak yang mengejar pada wujud, berburu dan berlomba pada yang tampak. Disini kita tidak menolak benda benda dan menisbikan materiil. Kita hanya ingin sampai pada batas eksistensi kita yang tidak semata bendawi, tapi memerlukan makna yang sejalan dengan titah seluruh Risalah: Menyembah, mencintai, memberi, memperbaiki dan memakmurkan bumi dalam misi latihan untuk kembali. Untuk latihan itu kita bangun dan tidur, pergi dan pulang, datang dan hilang, atau ada dan tiada, semua menjadi bekalan memburu makna dari pergumulan sehari hari. Disini hanyalah gambaran kesementaraan yang tampak asli.

 Padahal, bagi yang memburu makna, manis dan pahit akan tetap membawa pada pengertian tinggi.  Adapun perburuan terbaik dalam makna ini didapat lewat amal kebaikan yang bersandar pada ajaran hanif para nabi di setiap ruas aktivitas. Sembari terus bersegera dalam meraih ampunan dari Rabb yang Perkasa, sebab kita tak terlepas dari noda noda. Kebaikan dan ampunan  tadi adalah bagian dari pintu makna yang mesti kita lalui, agar kita benar benar “sampai”.[]

Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik dan populer.