ISLAM sangat menghargai sebuah kebaikan terlebih dalam menuntut ilmu. Kita penuntut ilmu juga di anjurkan memuliakan dan mengingat kebaikan sang guru bukan hanya di saat mereka masih hidup terlebih dikala mereka telah tiada juga dianjurkan untuk berdoa kepadanya.
Dalam literature sejarah terlihat bagaimana pendiri mazhab Hanafi dalam mendoakan Syekh Hammad salah seorang guru beliau sebagaimana diungkapkan dalam manaqibnya,: Tidaklah aku sembahyang sejak meninggal Hammad kecuali aku memintakan ampun untuknya dan orang tuaku. Aku selalu memintakan ampun untuk orang yang aku belajar darinya atau yang mengajariku ilmu. (Mana-qib Imam Abu Hanifah. Lihat Adab at-Tatalmudz: 28).
Menanggapi persoalan ini juga Ibnu Jamaah juga menambahkan hendaklah seorang penuntut ilmu itu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat.. argument di atas sejalan dengan sabda Rasulullah SAW berbunyi; Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal. (HR. Abu Dawud no. 1672).
Di samping itu juga hendaknya seorang penuntut ilmu (thalibul ilmi) tidak hanya mencukupkan diri untuk belajar kepada muallim(guru) yang populer saja, karena hal itu dinilai oleh Imam al-Ghazali termasuk kesombongan dan kebodohan. Beliau mengibaratkan sebuah kebenaran itu seperti barang hilang yang dicari oleh seorang mukmin dan dia akan mengambilnya dimana pun dia mendapatkannya dan berterima kasih kepada orang yang memberikan kepadanya. Begitu juga pula seorang penuntut ilmu, dia akan lari dari kebodohan dirinya sebagaimana dia lari dari singa. Dan di umpamakan orang yang lari dari singa, dia tidak akan peduli siapa pun orangnya yang menunjukkan jalan keluar kepadanya. (Tadzkirah Sami : 87).
Para penuntut ilmu juga manakala mendengar orang yang sedang mengghibah kehormatan seorang muslim, hendaklah dia membantah dan menasehati orang tersebut. Apabila tidak bisa, diam dengan lisan maka dengan tangan, apabila orang yang mengghibah tidak bisa dinasehati juga dengan tangan dan lesan maka tinggalkanlah tempat tersebut. Apabila dia mendengar orang yang mengghibah gurunya atau siapa saja yang mempunyai kedudukan, keutamaan dan keshalihan, maka hendaklah dia lebih serius untuk membantahnya. (kitab Shahih al-Adzkar 2: 832, dan Kitab Adab at-Tatalmudz: 33).
Seorang pelajar juga harus menjaga adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap guru maupun ahli ilmu. Demikian pentingnya kedudukan adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah. []


