__”Sukses dan gagal akhirnya hanya perspektif untuk sampai pada takdir yang lain. Mengulangi prosesnya, menjalani prosedurnya dan menyakini di fikiran akan wujud sukses yang dimaksud”__
Oleh Taufik Sentana*
Berfikir sukses dan berfikir tentang sukses tentulah berbeda. Berfikir sukses menuntut seluruh aspek kedirian dan lingkungan untuk sejalan dengan tujuan atau keberhasilan yang dimaksud.
Lalu kita mengisi pikiran dan mengefektifkan aktivitas kita pada hal yang menjadi prioritas. Para pakar menyebut bagian ini sebagai fokus, kesungguhan, daya tahan dan penuh tahapan.
Ada beberapa hal dan tahapan fokus yang biasa dilakukan. Misal, fokus pada nilai nilai hidup dan prinsip. Atau fokus pada pengembangan diri, keluarga, finansial dan kontribusi sosial. Namun secara eksistensi, fokus itu hendaknya mendukung kebahagiaan kita, namun kita tetap bisa memaksa diri untuk fokus dengan beberapa pertimbangan jangka panjang, dan terasa berat di awal, tapi akan berbuah manis.
Bila menilik pada karir dan pengembangan diri, maka seseorang bisa fokus /mengelola energi fikir dan tindakannnya untuk satu bidang selama beberapa waktu tertentu. Tentu dengan tujuan tujuan yang berbeda, apakah untuk membangun aset, relasi, pengalaman atau lainnya.
Pada tahap berfikir sukses, seorang hanya melekat pada tujuannya, niat dan visinya, atau pada gambar besarnya. Itulah yang ia lihat, hayati dan percayai setiap hari. Sambil terus mengikuti prosedur (tentang) suksesnya, seperti kapasitas diri, disiplin, relasi, kekuatan doa dan hal lain yang mendukung suksesnya. Setelah itu baru dia bisa berlepas diri akan hasil akhir yang disebut takdir.
Sukses dan gagal akhirnya hanya perspektif untuk sampai pada takdir yang lain. Mengulangi prosesnya, menjalani prosedurnya dan menyakini di fikiran akan wujud sukses yang dimaksud.[]
*Praktisi Pendidikan Islam.



