“Bang, ada kemudahan bantu saya sedikit, beberapa hari ini saya tidak punya apa-apa di rumah,” ucap seseorang dengan memelas.
'Kebiasaan burukmu enggak pernah berubah asal ketemu saya. Kenapa kamu enggak cari kerja lain atau berjualan kayak masa kuliah dulu,” tanya saya dengan ketus.
“Di sini hidupku bang, passion-ku ini, aku bahagia dengan profesi ini walau belum mampu menopang ekonomiku,” balasnya dengan tegas.
Sahabat!!!
Terkadang kita menemukan orang yang berpola hidup begini. Punya profesi yang ditekuni dengan sungguh-sungguh. Tapi tetap melarat.
Maka jika Anda tidak sukses dan berkutat atas nama passion aau hobby, pertanyaannya haruskah profesi itu terus Anda jadikan penopang ekonomi? Masalahnya kesulitan hidup bukan hanya Anda seorang. Tapi juga keluarga Anda.
Terkadang kita takut keluar. Takut menghadapi tantangan lain. Sehingga kemudian terus saja berada di satu titik. Titik dimana kita tidak bisa bergerak untuk membebaskan kita dari keterpurukan.
Tuhan tidak mengubah nasib hambanya tanpa usaha. Banyak orang terjerat kebodohan karena takut dan malas belajar. Banyak orang memilih melarat daripada terus menghadapi tantangan.
Tubuh kita bergerak kemana dibawa otak. Ketika otak kita tidak diajak mencari solusi. Maka tubuhpun akan bergerak atau statis pada titik itu.
Tidak satupun anjuran meminta kita mencari alasan buat mengalah. Sebab manusia adalah makhluk dinamis. Jangan mencari pembenaran atas ketidakmauan. Atau ketakutan bersaing.
Bukankah kita hidup sampai dewasa karena kemampuan bersaing di alam. Tanpa itu barangkali kita telah kalah dari sperma untuk jadi janin. Lahir dan kemudian dewasa.
Silakan pilih profesi yang Anda sukai. Tapi ingat hidup bukan sekadar kegemaran atau hobby. Banyak hal dapat disanding dengan hobby. Menjadi sukses dan hebat itu penting. Sebab dengan begitu Anda bisa mrmbantu diri sendiri, keluarga, kerabat dan makhluk lain.
Harga diri kita diukur seberapa sering tangan kita memberi. Tidak ada kemuliaan bagi si peminta atau tangan di bawah.[]





