PERTAMA kali sebelum melangkah untuk menuntut ilmu hendaknya kita berusaha selalu mengikhlaskan niat. Sebagaimana telah jelas niat adalah faktor penentu diterimanya sebuah amalan. Ilmu yang kita pelajari adalah ibadah, amalan yang mulia, maka sudah barang tentu butuh niat yang ikhlas dalam menjalaninya. Dalil akan pentingnya ikhlas beramal di antaranya firman Allah:Padahal mereka tidakdisuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus… (QS. al-Bayyinah [98]: 5).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah 253,). Sementara itu Imam ad-Daruqutni juga berkata: “Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Allah, akan tetapi ilmu itu enggan kecuali untuk Allah.” (Tadzkiratus Sami hal. 47, lihat Ma’alim fi Tharicj Thalibil llmihal. 20).
Hal ini juga sebagaimana di ungkapkan oleh Imam asy-Syaukani berkata: “Pertama kali yang wajib bagi seorang penuntut ilmu adalah meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang ia kehendaki adalah syariat Alloh, yang dengannya diturunkan para Rosul dan al-Kitab. Hendaklah penuntut ilmu membersihkan dirinya dari tujuan-tujuan duniawi atau karena ingin inencapai kemuliaan, kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya.” (Adabut Tholab wa Muntaha al-Arab hal. 21).
Jangan mencari guru sembarangan
Ibnu Jama’ah al-Kinani berkata: “Hendaklah penuntut ilmu mendahulukan pandangannya, istikharah kepada Allah untuk memilih kepada siapa dia berguru. Hendaklah dia memilih guru yang benar-benar ahli, benar-benar lembut dan terjaga kehormatannya. Hendaklah murid memilih guru yang paling bagus dalam mengajar dan paling bagus dalam memberi pemahaman. Janganlah dia berguru kepada orang yang sedikit sifat wara’nya atau agamanya atau tidak punya akhlak yang bagus.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal. 86).
Mengagungkan Guru
Seorang murid juga dianjurkan untuk mengangungkan gurunya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbunyi; “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghorrmti orang yang tua, tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti hak ulama kami. (HR. Ahmad 5/323, Hakim 1/122.)
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut.” (Kitab al-Majmu’ 1/84).
Mengakui keutamaan Guru
Khathib al-Baghdadi berkata: “Wajib bagi seorang murid untuk mengakui keutamaan gurunya yang faqih dan hendaklah pula menyadari bahwa dirinya banyak mengambil ilmu dari gurunya.” (al-Faqih wal Mutafaqqih 1/196). Ibnu Jamaah al-Kinani berkata: “Hendaklah seorang murid mengenal hak gurunya, jangan dilupakan semua jasanya.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 90).
Doakan kebaikan
Salah satu hal terpenting lainnya bentukketakdhiman kita kepada sang guru dengan mendoakan kebaikan sebagaimana di jelaskan oleh baginda Rasulullah SAW, beliau bersabda; Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah denganbalasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telahmencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR. Abu Dawud 1672).
Semantara itu Imam Abu Hanifah pada persoalan ini juga berkata: “Tidaklah aku shalat sejak kematian Hammad kecuali aku memintakan ampun untuknya dan orang tuaku. Aku selalu memintakan ampun untuk orang yang aku belajar darinya atau yang mengajariku ilmu.” (Mana-qib Imam Abu Hanifah. LihatAdab at-Tatalmudz hal. 28.
Pernyataan diatas juga disokong oleh ungkapan Ibnu Jama’ah, beliau berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat.”(Tadzkirah Sami’ hal. 91).[]



