DALAM kehidupan seahari-hari, tidak luput kita dari fenomena yang namanya “ghibah”. Namun kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dan menghindari diri dari perbuatan tercela tersebut yang merupakan penyakit hati. Sungguh sangat di sayangkan apabila yang kita ghibah merupakan orang yang berilmu (ulama).

Ketahuilah selayaknya bagi siapa saja yang mendengar orang yang sedang mengghibah kehor­matan seorang muslim, hendaklah dia membantah dan menasehati orang tersebut. Apabila tidak bisa diam dengan lisan maka dengan tangan, apabila orang yang mengghibah tidak bisa dinasehati juga dengan tangan dan lisan maka tinggalkanlah tempat tersebut. Apabila dia mendengar orang yang mengghibah gurunya atau siapa saja yang mempunyai kedudukan, keutamaan dan kesholihan, maka hendaklah dia lebih serius untuk membantahnya. (Shohih al-Adzkar 2/832, Adab at-Tatalmudz hal. 33). 

Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak  ilmu

Dalam dunia pendidikan kita sering mendengar ungkapan bahwa “Kita lebih perlu kepada sedikit adab dari pada kepada banyak  ilmu” demikian ungkapan penting yang dituturkan Ibnu al-Mubarak. Ungkapan itu sama sekali bukan ungkapan yang mengecilkan peran ilmu. Karena, ilmu memang penting, bahkan sangat penting. Sejak kecil kita telah dipesankan ihwal pentingnya ilmu dan kewajiban menuntutnya. Tentu kita sangat mengenal sabda Rasulullah saw, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.

Tetapi Islam tidak hanya menekankan pentingnya ilmu. Akhlaq yang mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting lagi. Sabda Nabi saw yang sangat terkenal menegaskan hal itu, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

Perhatikanlah, tujuan Nabi Saw diutus pun, sebagaimana yang beliau ungkapkan sendiri, adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Tentu dalam  pengertian yang luas dan menyeluruh yang dimulai dengan akhlaq terhadap Allah swt. Dari hadits tersebut kita dapat memahami betapa Islam sangat mementingkan akhlaq. Dalam pelaksanaannya, akhlaq yang bersifat global itu terwujud dalam adab adab yang khusus, mulai dari adab terhadap Allah, adab terhadap Nabi, adab terhadap orang tua, adab terhadap anak, adab terhadap guru, murid, adab terhadap keluarga, tetangga, terhadap tamu, dan sebagainya. Juga adab dalam melakukan berbagai perbuatan, baik ibadah ibadah maupun yang lainnya.

Demikian pentingnya perkara adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.” Karena itulah, seorang ulama berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh , engkau mempelajari satu bab adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.” Apa yang dituturkan Abdurrahman bin al-Qasim berikut ini semakin menguatkan hal tersebut, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan).”[]