BLANGKEJEREN – Bibit lamtoro (pohon pelindung kopi) yang disalurkan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues kepada petani tampak berserak di Jalan Agusen, Kecamatan Blangkejeren. Keadaan itu menuai reaksi warga setempat hingga memposting foto ke media sosial, disertai pertanyaan “siapa yang salah dalam hal ini, apakah pemerintah atau penerimanya?”

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Gayo Lues Ridwansyah, S.P., dikonfirmasi portalsatu.com/, Selasa, 21 September 2021, mengatakan bibit lamtoro sudah disalurkan kepada Kelompok Tani Uer Geloah Desa Penggalangan, Kecamatan Blangkejeren.

“Jumlah bibit lamtoro yang disalurkan kepada Kelompok Tani Uer Geloah 15 ribu batang, dengan luas lahan 36 hektare dan 36 orang penerima. Karena penerimanya adalah kelompok, maka diturunkan kontraktor (rekanan) di satu titik, dan kemudian kelompok yang membagi sesuai dengan kebutuhan dan pengajuan mereka,” kata Ridwansyah di ruang kerjanya.

Ridwansyah menyebut setelah bibit disalurkan kepada kelompok tani atau diturunkan di Jalan Agusen, sebagian anggota kelompok memilih mencabut batang lamtoro dari polibag (kantong plastik). Sehingga polibag bibit lamtoro tampak berserak di tepi jalan.

“Sebagian anggota kelompok tani kebunnya jauh dari jalan, jadi memilih mencabutnya. Memang di musim hujan ini bisa tumbuh kalau lamtoro. Dan perlu saya tegaskan juga bahwa bantuan bibit itu sudah menjadi tanggung jawab kelompok tani penerima,” ujar Ridwansyah.

(Bibit lamtoro untuk kelompok Tani Uer Geloah Desa Penggalangan, Kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues, berserak di pinggir Jalan Agusen. Sebagian bibit sudah dicabut dari polibag oleh anggota kelompok. Foto: Istimewa/warga)

Direktur CV Mulia, drh. Salman, selaku rekanan pengadaan bibit lamtoro itu mengatakan pihaknya sudah menyusun bibit lamtoro dengan bagus. Hal itu bisa dibuktikan dengan dokumen saat diserahkan kepada kelompok tani.

“Total anggaran pengadaan bibit lamtoro ini Rp800 juta lebih, tapi bukan hanya itu, masih banyak kelompok penerima lainnya. Dan kami dari perusahaan, siap mengganti bibit jika ada yang kurang atau tidak sesuai. Sedangkan mengenai adanya polibag yang berserak, itu bibitnya sudah dicabut sama petani, jadi bukan tanggung jawab kami lagi,” kata Salman di kantor Dinas Pertanian Gayo Lues. Dia menyebut pengadaan bibit itu belum PHO.[]