Bicara Sastra (3): Konsep “Sastra” dalam Tradisi Aceh
Oleh: Taufik Sentana. Peminat Sosial Budaya. Banyak Menulis prosa..
Dalam tradisi lisan atau klasik Aceh, tidak ada satu kata tunggal yang kita temukan secara persis, atau mencakup bentuk konsep modern “sastra” (yang meliputi prosa, puisi, drama, dll.).
Namun, bila kita telisik lebih jauh, ada beberapa istilah tradisional yang merujuk pada bentuk-bentuk spesifik atau aktivitas yang dikategorikan sebagai sastra, seperti:
Haba:
Secara harfiah berarti ‘kabar’ atau ‘cerita’. Istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada cerita rakyat atau narasi lisan, seperti Haba Jameun (cerita zaman dahulu).
Nariet:
Berarti ‘ucapan’ atau ‘perkataan’. Digunakan dalam istilah Narit Maja (peribahasa), yang merupakan sastra lisan berbentuk ungkapan bijak.
Hikayat:
Ini adalah nama dari salah satu bentuk sastra yang paling terkenal di Aceh, merujuk pada narasi epik, seringkali bersajak dan dilantunkan.
Pantôn:
Nama untuk bentuk puisi lama khas Melayu/Aceh.
Ca-e: sebutan untuk bentuk syair dalam tradisi Aceh.
Tutô:
Berarti ‘tutur’ atau ‘berbicara/mengucapkan’. Ini lebih merujuk pada proses atau aktivitas menyampaikan cerita atau sastra lisan (bertutur).
Jadi, dalam tradisi Aceh, para seniman (masyarakat) lebih menggunakan nama-nama spesifik untuk genre atau bentuk dari sastra (seperti Hikayat, Pantôn, Narit Maja), atau istilah yang merujuk pada aktivitas penceritaan atau pengucapan (Haba, Narit, Tutô).
Konsep “Sastra Aceh” adalah istilah yang lebih modern dan umum digunakan dalam bahasa Indonesia untuk merangkum seluruh kekayaan karya tulis maupun lisan dari Aceh.[]








