Oleh: Taufik Sentana
Peminat literasi pendidikan Islam
Bergabung di JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Aceh Barat
Ini bukan forum untuk menafikan adanya bid’ah yang baik. Tapi secara umum, bid’ah yang baik itu ada. Artinya, tidak semua bid’ah dicap dengan kunci neraka. Sebab bid’ah yang kita maksud adalah hal baru yang tidak melanggar syara’.
Dalam ruang tulisan kecil ini, penulis ingin menyampaikan apa yang kami praktikkan perihal bid’ah tadi. Ya, pada sesi di kelas hari ini, dalam rangka menutup semester untuk kelas 9 (SMP kelas tiga), kami sekelas membaca dan berdoa dengan wasilah Al Fatihah kepada mereka yang berjasa dalam perjalan belajar siswa hingga sampai di akhir semester ini.
Kami mendoakan orang tua kami, para guru, pelajar dan bahkan penulis dan penyusun buku yang kami pelajari. Khususnya Kitab Hadis Ar Bain An Nawawi (ditulis abad ke 6 H, 800 tahun yang lalu) dan penyusun versi modernnya, dengan Syarah yang sama, DR Mushthafa dhif dan Mahyuddin Mitsu.
Ini dimaksudkan agar menjadi pahala bagi guru/ulama di atas serta menjadi pemantik berkah bagi setiap orang yang telah mempelajarinya, walau tentu masih jauh dari sempurna untuk menguasai kitab tersebut.
Kitab yang penulis maksud itu merupakan muatan dalam pelajaran PAI yang penulis ampu di SMPIT Teuku Umar Meulaboh, Aceh Barat.Setiap pelajar mempelajari hadis, memahami makna dan kandungannya serta berupaya mempraktikkannya berdasarkan kemampuan masing masing.
Jadi, kembali ke poin dan judul tadi.Tradisi mendoakan ini, dengan wasilah Al Fatihah, bisa ditunaikan oleh siapa saja yang mempejari ilmu/kebaikan. Para guru bisa membimbing murid murid dan berdoa bersama, sehingga ternanam dalam hati mereka cinta akan ilmu dan menghormati guru/para ulama/ilmuwan lainnya dalam pelajaran apapun. Dan ini adalah bid’ah/tradisi yang baik![]



