Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaBJ. Habibie dan...

BJ. Habibie dan Sepi yang Teramat Tajam

Oleh: Taufik Sentana, Peminat Kajian Psiko-sosial dan Human Interest

Terdengar kisahnya tentang hobi memotret awan. Terutama saat ia menjabat wakil presiden RI. Tentang keilmuan dan karier tak diragukan lagi. Apalagi cinta, seakan ia telah menyatu dengan cinta itu: begitu tanggapan orang dekat yang pernah menjumpainya, mungkin ialah tokoh politik yang paling sedikit haternya.

Pada awal muda, kita mengenalnya sebagai sosok yang jenius, setiap orang tua ingin anaknya seperti BJ Habibie. Saat awal dewasa, saya mengenalnya lewat perannya di ICMI, setelah ia diminta kembali oleh Pak Harto.

Kisah tentangnya terus berkembang, terutama saat ia, sebelum ke Indonesia, menduduki puncak perusahaan penerbangan di Jerman dengan segenap hak paten dari teorinya di bidang aeroneutika. Sampai terdengar kabar ia bahkan diminta untuk jadi warga negara Jerman saja.

Kepergiannya saat ini adalah kehilangan terbesar, kata Mahathir Muhammad. Cita-citanya untuk Kapal Terbang Made in Indonesia versi 2050 menjadi tantangan bagi generasi milenial, setelah ia merintis Gatot Kaca dan N80.

Begitulah, pikirannya begitu maju dan luas, mungkin seluas ketulusannya terhadap kemanusiaan. Namun, selayaknya tokoh besar yang tunduk pada sunnatullah (kodrat alam), ia pernah merasakan sepi yang begitu tajam dan menikam. Bukan saja saat ia mulai mengembangkan visinya di Indonesia. Tapi, saat ia merasa separuh jiwanya hilang dibawa Ainun, istrinya yang mendahului beliau.

Sepi itu membuatnya rapuh dan merasa kosong, hingga kesehatannya menurun drastis saat itu. Ada tiga pilihan dokter, konsumsi obat tanpa ada jaminan sembuh, gangguan mental, atau menuliskan apa yang ia rasakan terhadap kepergian istrinya. Maka lahirlah kisah “Habibie dan Ainun”, bahkan diangkat ke layar kaca.

Agaknya, sepi itu terus juga berkecamuk, walau masih dalam kendalinya dan keadaannya sudah jauh lebih baik dari masa itu. Tapi sepi tetaplah sepi, setiap kita memiliki “ruang kosmos” tersendiri dalam menjalani hari-hari, apalagi saat usia semakin lanjut. Di antara penebus sepinya, menurut beberapa orang dekat yang beberapa kali mengunjunginya, separuh waktunya ia habiskan untuk membaca Alquran, kitab sucinya, mitra dialog pada Rabbnya, sesekali ia juga menghadiri seminar atau undangan formal, dan seterusnya.

Hingga akhirnya sepi itupun terlampaui juga oleh pertemuan abadi lewat jari Sang Maut. Aroma duka begitu kental, walau ia telah mewariskan banyak hal: kecerdasan, keuletan, kerja sama, pengaruh, kegairahan dan cinta. Kita tidak hanya kehilangan tokoh, melainkan kehilangan “berpuluh tokoh” dalam diri sang Eyang.

Selamat jalan, semoga Allah selalu merahmatimu. Sepi itu telah berganti perjamuan terbaik, insyaa Allah.[]

Baca juga: