LHOKSEUMAWE Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara dokter Makhrozal mengakui Fakhrul Ula, bocah keluarga miskin di Dusun Batee Leusong, Gampong Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, mengalami gizi buruk.
Iya, anak (berusia dua tahun lebih) itu gizi buruk, ujar Makhrozal ditemui portalsatu.com di ruangan IGD Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, Jumat, 5 Februari 2016.
Makhrozal menyebut Bidan Desa (Bides) yang ditugaskan di Seumirah telah berupaya menangani Fakhrul Ula sejak akhir tahun 2015 lalu. Laporan yang saya terima, bulan Desember 2015, KMS-nya belum di bawah garis merah. Sudah dianjurkan kepada orang tua anak itu agar dibawa ke puskemas, tapi setelah diperiksa sekali, keluarganya tidak mau balik lagi, katanya.
Bahkan waktu itu Bides sampai nangis-nangis memohon kepada orang tua anak itu agar membawa anaknya ke puskemas agar dirujuk ke Rumah Sakit. Tapi waktu itu ibunya sedang melahirkan bayi (adik dari Fakhrul Ula), tidak mau keluar rumah sebelum 44 hari, itu kan sudah menjadi kebiasaan kaum perempuan melahirkan di kampung-kampung, ujar Makhrozal lagi.
Penjelasan sama disampaikan Maidiana, Bides bertugas di Seumirah, ditemui portalsatu.com saat pihak Kodim Aceh Utara menjemput bocah itu untuk dievakuasi ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, Jumat menjelang siang tadi.
Indikasi anak itu mengalami busung lapar sekitar sebulan lalu. Sebelumnya mencret, sudah kita tangani, dibawa ke puskemas sekali, tapi orang tuanya tidak mau balik lagi, karena baru melahirkan bayinya, kata Maidiana.
Maidiana menyebut abang kandung Fakhrul Ula, Mulyadi juga pernah mengalami gizi buruk sekitar tahun 2011 silam. Waktu itu dia langsung kita tangani, dibawa ke puskesmas, kemudian dirawat sampai sembuh dengan pengawasan kami, ujarnya.
Kepala Puskesmas Nisam Antara Hamidiyah Yakob juga menyampaikan hal sama. Selama ini anak itu dalam pantauan Bides, waktu itu mau dirujuk ke rumah sakit, tapi ibunya baru melahirkan, tidak mau keluar rumah untuk menemani anaknya, karena bayinya belum 44 hari, kata Hamidiyah.
Jadi mengubah kebiasaan pola hidup sebagian warga di kampung-kampung masih sangat sulit. Misalnya, (perempuan) sudah melahirkan tidak mau keluar rumah. Ini perlu upaya bersama seluruh pihak terkait untuk memberikan pemahaman kepada ibu-ibu melahirkan untuk mengubah pola hidup yang seperti itu, ujar dia lagi.
16 kasus
Makhrozal menambahkan, warga mengalami gizi buruk menjadi tanggung jawab jajaran Dinas Kesehatan untuk melakukan penanganan medis. Kata dia, salah satu penyebab gizi buruk akibat faktor ekonomi keluarga, di samping soal pengetahuan masyarakat.
Karena itu, upaya pencegahan harus lebih ditingkatkan dan ini perlu koordinasi lintas sektoral. Misalnya, Dinas Sosial menangani soal kelayakan rumah untuk warga miskin, dan kita memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, kata Makhrozal.
Menurut Makhrozal, pada 2015 lalu ditemukan sebanyak 13 kasus gizi buruk di Aceh Utara. Dan 2016 sudah ditemukan tiga kasus gizi buruk, semuanya ditangani, katanya.[] (idg)



