SUBULUSSALAM – Petugas Balai Benih Ikan (BBI) Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kota Subulussalam membudidaya cacing sutra untuk pakan anak ikan yang baru lahir berusia 0-21 hari, termasuk untuk ikan emas jenis si nyonya.

“Cacing sutra sangat halus ini khusus untuk pakan anak ikan yang baru lahir,” kata Manager Pembenihan BBI Kota Subulussalam, Siti Rahmadani kepada portalsatu.com, Jumat, 26 Agustus 2016.

Siti mengatakan proses budidaya cacing sutra ini sekitar dua sampai tiga bulan atau ketika cacing berukuran 3-5 cm. Uniknya, proses berkembang biak bukan dengan bertelur melainkan pecah sehingga menjadi beberapa ekor.

“Ini beda dengan cacing biasa, warnanya ada tiga merah, coklat dan merah maron,” ungkap Jul, petugas yang dipercayakan untuk proses budidaya cacing tersebut.

Setelah berukuran 5 cm cacing sutra ini diberikan kepada anak ikan yang baru lahir seperti ikan nila gesit, nila sultana, nila wana yasa dan ikan emas jenis si nyonya.

Benih ikan yang sudah besar yakni berukuran sekitar 1-3 cm meter disalurkan kepada masyarakat atau kelompok tani yang mempunyai kolam. Sejak Januari hingga Agustus sudah 22.000 benih ikan disalurkan kepada masyarakat, sedangkan tahun lalu mencapai 47.250 ekor.

Lokasi budidaya cacing sutra dan benih ikan ini berada di Desa Lae Raso, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam atau berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota yang berada di Simpang Kiri.[]

Laporan Sudirman Bakongan