Bukan Khusnul Khatimah

Kabar wafatnya K.H. Hazim Muzadi, tokoh PBNU, menghiasi berbagai berita media massa. Doa pun terlontarkan untuk sang kiai secara lisan dan tulisan. Dalam bentuk tulisan, ada yang menulis semoga beliau chusnul khatimah. Ada pula yang menulis husnul khatimah, dan banyak pula yang menulis khusnul khatimah. Pertanyaannya, manakah penulisan benar?

Dikutip dari Assajidin.com dari Ust. Syafiq Basalamah hafizhohulloh dalam sebuah kajian, ia menyebutkan bahwa ucapan yang benar adalah husnul khatimah, huruf “H” nya pakai huruf “h”dibaca tipis, bukan pakai “H” dibaca tebal.

Husnul asal katanya adalah “hasan” yang berarti ‘baik’. “Husnul berarti ‘terbaik’. Jadi, makna dari kalimat “husnul khatimah” adalah “mati di saat (dalam keadaan) yang terbaik”.

Lalu bagaimana jika ditulis dan dibaca dengan khusnul khatimah – yang dibaca menggunakan huruf kha. Khusnul artinya terhina/ terendah. Maka, makna kalimat “khusnul khatimah adalah “mati disaat (dalam keadaan) dihinakan/ direndahkan. Jadi, jauh sekali maknanya kalau salah kita ucap atau salah tulis.

Lalu, bagaimana dengan tulisan dan pengucapan chusnul chotimah (menggunakan huruf C). Dalam kaidah bahasa dan ejaan bahasa Arab tidak dikenal huruf “C” atau gabungan huruf C dan H sehingga kalimat chusnul chatimah sama sekali tidak bermakna apa-apa.[] (*sar)