Sudah tak asing lagi, jika setiap bulan Ramadhan, kita akan kebanjiran agenda buka puasa bareng alias BukBer. Baik bukber teman sekantor, teman satu sekolahan dulu, atau dengan keluarga dan kerabat. Pendeknya, jadwal buka bareng ini, selalu saja menjadi agenda menarik dan sayang untuk dilewatkan dengan begitu saja.
Bicara tentang buka puasa bareng ini, aku jadi teringat akan kebiasaan masyarakat Turki yang hobby banget berbuka puasa di taman-taman kota, taman mesjid, atau taman-taman indah lainnya yang tersebar di seantero negeri mereka. Dan Alhamdulillahnya, saat main kesana, aku juga sempat menikmati asyiknya berbuka di beberapa taman. Salah satunya adalah taman indah yang ada di halaman mesjid biru alias Blue Mosque.
Pada awalnya sih, aku dan ayah sama sekali ga ngeh dengan tradisi unik [bukber di taman] ini. Kala itu, Sabtu, pagi-pagi adikku udah cerita bahwa dia akan menyiapkan makanan berbuka untuk kami berempat [dia dan istrinya, aku dan ayah], dan kami akan berbuka puasa di sebuah taman. Dia sengaja ga menyebutkan taman yang mana. Ada kekaguman di hatiku melihat adikku yang sudah jagoan di dapur itu. Aku yang masih leyeh-leyeh di laptop, menyatakan ingin turut serta ke pasar kalo dia ingin belanja makanan untuk bersiap-siap masak. Eh ternyata, katanya semua sudah ada di kulkas, tinggal olah saja. Oops! Adik lelakiku kini sudah piawai di dapur dan pinter masak masakan Indonesia. Hehe. Jadi ingat jaman kami di Aceh dulu, ketiga adik lelakiku, tak pernah turun ke dapur, semua serba dihidangkan. Ternyata… merantau, telah membuatnya mandiri dan handal bahkan untuk di dapur.
Well, back to the topic. Pendek kata, tanpa banyak bantuan dariku, adikku dengan dibantu oleh istrinya, selesai juga mempersiapkan makanan untuk berbuka. Dan kami pun bersiap menumpang taksi menuju mesjid Biru yang resminya bernamaSultan Ahmed Cami [Mesjid Sultan Ahmed]. Di sana, ya ampun, ternyata udah rame ajaaa. Banyak sekali orang-orang yang bahkan sudah meng-klaim tempat lho! Taman yang begitu luas, kini sudah di-klaving cantik dengan hamparan kain/tikar sebagai batasan 'daerah jarahan' masing-masing keluarga. Hehe. Anak-anak dengan gembira berlarian menikmati suasana.

