BerandaInspirasiIslamFalsafah Ulama Aceh Abu Hasan Krueng Kale tentang Puasa Ramadhan

Falsafah Ulama Aceh Abu Hasan Krueng Kale tentang Puasa Ramadhan

Populer

Oleh: Tgk. Ahmad Banda Dua, Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i di Aceh

Kata Rasulullah, “puasa olehmu karena melihat bulan dan hari raya olehmu karena melihat bulan”.

Abu Hasan Krueng Kale, ulama kharismatik Aceh dan penyambung Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i dari Tuanku Raja Keumala selalu berpegang tiap-tiap puasa pada kata (sabda) Rasulullah.

Semenjak beliau pulang dari Mekkah pada tahun 1914 M sampai beliau wafat pada tahun 1973 M, Abu Hasan Krueng Kale selalu berpegang pada hadis tersebut. Karena, menurut beliau, tidak boleh berpegang kepada hisab.

Di sela-sela beliau mengutuskan murid-muridnya untuk melihat anak bulan (rukyatul hilal) sebanyak 5 kali derajat bulan pada saat itu 002 – 005 derajat. Kemudian murid beliau menceritakan kepada Abu Hasan Krueng Kale.

Lalu, Abu Hasan Krueng Kale menjawab “sempurnakan Ramadhan 30 hari”. Kala itu Ramadhan 29 hari karena tidak imkan rukyah (tidak tampak anak bulan).

Karena, menurut Abu Hasan Krueng Kale, baru imkan rukyah posisi anak bulan 006-007 derajat. Sehingga pada suatu hari Abu Hasan Krueng Kale singgah ke rumah Abu Syekh Mud Blang Bladeh (ayah Abu Tumin). Setiba Abu Hasan Krueng Kale di rumah Abu Syekh Mud, Abu Hasan Krueng Kale langsung bertanya kepada Abu Syekh Mud, “kapan Teungku berhari raya?” Abu Syekh Mud menjawab, “kemarin, Abu”.

Ramadhan kala itu 29 hari. Spontan Abu Hasan Krueng Kale menjawab, “qadha kan oleh mu puasa satu hari lagi, karena tidak imkan rukyah, posisi bulan tidak tampak derajat 005 derajat”.

Sehingga beliau memberikan fatwa, “wajib kita berpuasa dan hari raya dengan melihat anak bulan (rukyatul hilal) dengan derajat bulan 006-007 derajat. Tidak boleh kita berpegang kepada hisab saja, wajib harus ada dua-duanya. Hisab tidak boleh kita jadikan hukum karena hisab adalah untuk menentukan derajat bulan dan posisi anak bulan yang mewajibkan puasa adalah dengan melihat anak bulan”.

Begitulah filsafat (falsafah) ulama-ulama dahulu yang patut kita ambil sebagai pelajaran dan pegangan di era kehidupan kita saat ini yang banyak timbul pemahaman-pemahaman dan perselisihan. Mari kita kembalikan kepada filsafat ulama-ulama dahulu seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lainnya. Kita harus berpegang kepada fatwa-fatwa ulama dahulu yang ber i’tiqat Ahlussunnah wal Jama’ah yang bermazhab Syafi’i.

Mari kita bersatu padu untuk memperbaiki moral dan akhlak rakyat dalam i’tiqat Ahlussunnah wal Jama’ah yang bermazhab Syafi’i. Apalagi pemerintah wajib menjaga dan memelihara agama untuk rakyat.

Oleh karena itu, saya Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh mengajak pemerintah dan mengimbau kepada pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki moral dan akhlak rakyat dengan acuan peninggalan Sultan Malikussaleh, dan Syiah Kuala, dengan menggemakan pengajian untuk rakyat supaya rakyat baik akhlaknya. Kalau akhlak rakyat baik negeri pun ikut baik.[]

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya