Karena penasaran, Wildeman membeli buku itu dan mempelajari tentang Islam. Sebelum membaca buku itu, dia memiliki beberapa pandangan negatif tentang Islam.
Misal, dia bertanya-tanya bagaimana seorang Muslim taat bisa berpikir dia adalah orang yang shaleh sementara dia menindas istrinya. Dia juga bertanya-tanya mengapa Muslim menyembah bangunan di Makkah sementara patung dan bangunan tidak memiliki kekuatan dan membantu siapa pun.
Membaca buku tentang Islam
Wildeman terus mempelajari Islam dari berbagai sumber, banyak buku yang sudah ia baca. Setelah beberapa tahun, dia menemukan hampir semua yang dia pikir sebelumnya tentang Islam adalah salah. Bahkan, ditentang dalam Islam.
“Ternyata Nabi Muhammad SAW telah berkata seseorang dapat melihat betapa baiknya seorang mukmin dari cara dia memperlakukan istrinya. Saya menemukan Muslim tidak menyembah Ka’bah,” ujar dia.
Dia juga menemukan banyak aturan dasar yang sebelumnya dia sudah lakukan sebelum belajar tentang Islam. Sayangnya, tidak banyak dakwah yang dilakukan di lingkungan sekitar rumahnya.
Ramadhan pertama sebagai non-Muslim
Saat Ramadhan tiba, Wildeman memutuskan mencobanya. Buku-buku yang selama ini ia baca tidak ada yang menjelaskan bagaimana rasanya menjalani ibadah di Ramadhan.
“Saya pergi ke rekan kerja Muslim saya dan mengatakan kepada mereka saya akan berpuasa bersama mereka. Saya membeli Alquran dan menemukan jadwal 30 hari berpuasa di internet,” ucap dia.
Saat dia memberi tahu tentang membaca Alquran lengkap dan puasa di Syawal, beberapa dari mereka tidak pernah mendengar atau melakukannya. Selain itu, dia mengikuti sunnah seperti membawa susu dan kurma untuk bekerja.
“Saya memberi tahu mereka jika mereka tidak membaca bagian 1/30 harian mereka dari Alquran, saya tidak memiliki siapa pun untuk ditanyai. Jadi kami pergi bersama sebagai satu kelompok. Ibu atau istri mereka memasak makanan yang kami makan di tempat kerja, jadi saya juga mencoba makanan baru,” jelas dia.





