Oleh: Taufik Sentana*

Bulan emas di atas kepala
menyimpan sunyi kelana zaman
Abad yang payah, pongah dan lelah
redup-redam dalam syahdumu.

Kami menepi dari kesibukan hari hari
mengutip pecahan emas cahayamu
melukisnya menjadi kenangan
menyimpan rindu yang tak putus.

Bulan emas di atas kepala
sederhana dan anggun
dengan selimut malam yang lembut
Ribuan bintang cemburu
bergemuruh menarik lenganmu.

Kami menatapmu jauh
mata kami keruh,
meraba lafaz hikmah
dalam dahaga zaman.

Sumur sumur kami telah kering
Kulit kulit pohon kami telah mengelupas.
Engkaulah musim bunga di jiwa kami.[]

*Penyuka prosa.