Karya Taufik Sentana*

Bulan tenggelam di kotaku
membelah dan luruh
di jalanan aspal
yang kotor dan sesak.

Ceritanya tentang malam yang gigil
dengan gemerlap harap yang suram,
Lari dari esok karena lelah hari ini.

Bulan itu tenggelam 
dari ufuk peristiwa zaman
menyisakan ruang ruang kosong
dan celah celah gedung yang bisu.

Hanya beberapa pecahan keemasannya
yang terpatri dalam tunas daun kemarin.
Agar bisa mengungkapkan
makna harmoni dan keindahan
dengan sendi sendi yang utuh.[]

*Banyak menulis puisi dan esai sosial