Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaCakra Donya, Lonceng...

Cakra Donya, Lonceng Keramat dari Laksamana Ceng Ho di Aceh

Aceh bukan hanya terkenal pantai dan wisata alamnya. Bermacam situs sejarah di berbagai lokasi bernilai sejarah tinggi. Salah satunya Lonceng Cakra Donya di Museum Aceh, Banda Aceh.

Bagi masyarakat Aceh, lonceng bersejarah yang dibuat pada tahun 1409 Masehi itu sudah tidak asing lagi. Lonceng berbentuk stupa, setinggi 125 sentimeter dan lebar 25 sentimeter. Masih kokoh tergantung di halaman Museum Aceh. Inilah saksi bisu kekuatan armada militer Kerajaan Aceh Darussalam di masa jayanya.

Berdasarkan catatan sejarah, lonceng itu adalah hadiah Kaisar Yonglee yang berkuasa di daratan Tiongkok kepada Kerajaan Samudra Pasai, sebagai wujud persahabatan kedua kerajaan. Lonceng itu diantarkan langsung oleh Laksamana Ceng Ho ketika melawat ke Aceh guna membangun kerja sama dalam bidang keamanan dan perdagangan.

Karena itu, armada laut yang dimiliki Kerajaan Samudra Pasai sangat kuat, bahkan memiliki kapal induk terbesar di dunia yang akhirnya direbut oleh kerajaan dari Portugis lalu diserahkan ke Spanyol.

“Tetapi lonceng ini tidak direbut oleh Portugis karena ini adalah hadiah termegah dari kerajaan China dan bentuk ikatan persahabatan dengan China. Mungkin dengan pertimbangan itu, lonceng ini tidak pernah direbut oleh penjajah mana pun,” kata Tarmizi Abdul Hamid, seorang kolektor manuskrip Aceh, Kamis, 28 September 2017.

Saat Kerajaan Pasai takluk di tangan Kerajaan Aceh Darussalam pimpinan Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 Masehi, lonceng itu disita dan dibawa ke Koetaradja (sekarang Banda Aceh), pusat Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Lonceng itu awalnya diletakkan di atas kapal perang Sultan Iskandar Muda bernama Cakra Donya, kapal induk milik armada Aceh pada waktu itu. Karena ukurannya yang sangat besar, Portugis pernah menyebutnya dengan nama Espanto del mundo atau teror dunia.

Lonceng itu selanjutnya diberi nama Lonceng Cakra Donya. Namanya diambil dari kapal perang itu. Cakra berarti kabar, dan Donya artinya dunia, sehingga Lonceng Cakra Donya dapat diartikan sebagai kabar dunia.

“Inilah salah satu bukti kedigdayaan maritim Aceh pada waktu itu. Lonceng ini dahulu dipergunakan sebagai alat pemanggil bila ada sesuatu yang darurat di laut,” katanya.

Setelah tak digunakan di kapal dan sebelum diletakkan di halaman Museum Aceh, lonceng Cakra Donya sempat digantung di kompleks Istana Darul Dunia, di sudut kanan Masjid Raya Baiturrahman.

Lonceng sering dibunyikan ketika penghuni Istana harus berkumpul untuk mendengar maklumat Sultan, memanggil orang untuk salat, tanda berbuka puasa, dan lain-lain. Benda itu dipindahkan Museum Aceh pada tahun 1915 dan masih di sana sampai sekarang.[] Sumber: viva.co.id

Baca juga: