LHOKSEUMAWE — Bagi masyarakat Aceh, lebaran bukan hanya tentang gema takbir dan hidangan daging di meja makan. Ada satu sajian sederhana yang hampir tak pernah absen dari setiap rumah, namun justru paling dirindukan oleh para perantau: timphan.
Kue basah khas Aceh ini bukan sekadar makanan tradisional. Di balik balutan daun pisang mudanya, tersimpan kenangan tentang ibu yang sibuk di dapur, keluarga yang berkumpul menjelang hari raya, hingga suasana kampung halaman yang sulit tergantikan di negeri orang.
Tak heran, sebuah pantun lama tentang timphan masih sering terdengar hingga kini di tengah masyarakat Aceh. “Uroe goet buluen goet, timphan ma peugoet beu meutemeu rasa.” (Hari baik, bulan baik, timphan buatan ibu harus dapat kurasa).
Pantun sederhana itu menggambarkan betapa timphan bukan hanya kuliner, melainkan simbol kasih sayang dan kerinduan. “Hari baik bulan baik” merujuk pada momen hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, ketika keluarga berkumpul dan rumah-rumah dipenuhi aroma masakan khas Aceh.
Menjelang lebaran, para ibu biasanya mulai membuat timphan sejak satu atau dua hari sebelumnya. Di dapur-dapur rumah warga, suara parutan kelapa, adonan yang diuleni, dan uap panas kukusan menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Timphan memiliki bentuk pipih memanjang, dibungkus daun pisang muda berwarna hijau segar. Teksturnya lembut dan kenyal karena dibuat dari campuran tepung ketan, pisang, dan santan kelapa. Sementara bagian dalamnya diisi kelapa parut bercampur gula ataupun selai srikaya yang manis legit.
Srikaya untuk isian timphan biasanya dibuat dari campuran telur, santan, gula, tepung, dan nangka yang dicincang halus. Semua bahan dimasak perlahan hingga mengental sebelum dibungkus bersama adonan timphan.
Meski terlihat sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Tepung ketan dan pisang terlebih dahulu dihaluskan bersama santan hingga menjadi adonan lembut. Adonan itu kemudian dibentangkan di atas daun pisang muda yang telah dioles minyak, lalu diisi srikaya atau kelapa manis sebelum digulung rapi.
Setelah itu, timphan dikukus hingga matang dan mengeluarkan aroma harum khas daun pisang bercampur santan. Timphan paling nikmat disantap saat masih hangat, ditemani kopi atau teh manis di pagi hari lebaran.
Bagi perantau Aceh, timphan sering kali menjadi pemantik rindu yang paling sederhana namun mendalam. Banyak yang mengaku, rasa timphan buatan ibu di kampung halaman tak pernah benar-benar bisa tergantikan, meski telah mencoba membuatnya sendiri di tanah rantau.
Di tengah kesibukan dan jarak yang memisahkan, timphan seolah menjadi penghubung antara anak dan orangtua, antara kampung halaman dan kehidupan di perantauan. Aroma daun pisang yang dikukus dan rasa manis srikaya di dalamnya mampu membawa ingatan pulang ke rumah, ke meja makan sederhana yang penuh cerita.
Karena itu, Timphan bukan hanya soal rasa. Ia adalah kenangan yang dibungkus daun pisang, lalu diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas dan kehangatan masyarakat Aceh.
Timphan Dipromosikan Jadi Wisata Kuliner Aceh
Timphan, kue tradisional khas Aceh yang identik dengan hidangan lebaran, kini mulai dipromosikan sebagai bagian dari wisata kuliner dan budaya Aceh.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan timphan tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga simbol kehangatan keluarga dan kerinduan para perantau terhadap kampung halaman.
“Timphan memiliki nilai budaya dan emosional yang kuat bagi masyarakat Aceh. Karena itu, kuliner ini sangat potensial diperkenalkan kepada wisatawan,” kata Aidil, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, aroma harum daun pisang muda dan rasa manis srikaya di dalam timphan menjadi pengalaman kuliner yang khas bagi wisatawan yang datang ke Aceh.
Menjelang Idul Fitri maupun Idul Adha, masyarakat Aceh biasanya membuat timphan secara bersama-sama di rumah. Tradisi turun-temurun itu kini juga mulai dilirik sebagai daya tarik wisata budaya.
Sejumlah pelaku usaha kuliner di Banda Aceh dan Aceh Besar bahkan mulai menghadirkan wisata membuat timphan. Pengunjung diajak melihat langsung proses pembuatan, mulai dari mengolah adonan hingga membungkus timphan dengan daun pisang sebelum dikukus.
“Banyak wisatawan tertarik karena bentuk dan rasanya unik, berbeda dengan kue tradisional daerah lain,” ujarnya.
Selain menjadi suguhan keluarga saat lebaran, timphan kini juga mudah ditemukan di pusat oleh-oleh, kedai kopi, hingga festival budaya di Aceh.
Aidil berharap promosi timphan sebagai wisata kuliner dapat membantu menjaga warisan budaya Aceh sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat dan pelaku UMKM.
“Di balik balutan daun pisangnya, timphan menyimpan cerita tentang tradisi, keluarga, dan rasa rindu yang menjadi bagian dari identitas Aceh,” katanya. [Adv]








