Tanaman lada (Piper ningrum L.) merupakan salah satu komoditas perdagangan dunia yang dikenal dengan sebutan The King of Spice atau Raja Rempah – rempah. Lada di Indonesia dikenal dengan sebutan MERICA atau SAHANG.
Indonesia merupakan negara pengekspor lada terbesar kedua setelah Vietnam, walaupun secara luas lahan perkebunan lada Indonesia lebih luas dibandingkan dengan negara Vietnam.
Lada Perdu atau MERICA PERDU merupakan jenis tanaman lada yang tidak menjalar dan tidak memerlukan tiang panjat. Kenapa lada perdu tidak memanjat atau menjalar? Tanaman lada perdu tidak memiliki sulur panjat, oleh karena itu tanaman ini tidak bisa tumbuh memanjat pada tiang panjat. Tanaman lada perdu tumbuh seperti tanaman perdu pada umumnya.
Keunggulan lada perdu bila dibandingkan dengan lada panjat, diantaranya yaitu:
- pemeliharaan tanaman lebih mudah,
- pelaksanaan panen lebih mudah,
- berproduksi lebih awal (2 tahun),
- populasi tanaman per satuan luas lebih banyak (4000-4500 tanaman/ha),
- dapat ditanam secara tumpangsari, dan
- dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman tahunan.
Syarat kesesuaian lahan untuk budidaya lada perdu:
- Lada perdu dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, antara lain: Ultison, Inceptisol, Alfisol, dan Andisol.
- Kondisi tanah yang dikehendaki adalah tanah yang memiliki aerasi dan drainase yang baik dan kaya bahan organik (subur).
- PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi lada perdu berkisar pada pH 5,5–5,6.
- Lada merupakan tanaman dataran rendah, ketinggian tempat yang sesuai kurang dari 500 m dpl.
- Curah hujan yang dikehendaki antara 2.000-3.000 mm/tahun dengan hari hujan rata-rata 177 hari.
- Lada perdu dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada kisaran intensitas cahaya matahari 50-75%.



