Oleh: Saiful Akmal
(Dosen UIN Ar-Raniry, Pendiri Padebooks.com)
Bulan Juli ini persis 2 tahun masa kepemimpinan Irwandi-Nova sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh.
Tahun Pertama: 2018
– Pasca-pelantikan, program Aceh Hebat yang direncanakan dalam 15 program unggulan diharapkan bisa lepas landas pada tahun anggaran 2018.
– Namun yang terjadi adalah tidak ada kesepakatan dengan pihak DPRA, ada problem pengesahan APBA dan akhirnya ditetapkan dengan Pergub Aceh setelah disetujui oleh Mendagri.
– Ini menjadi awal yang buruk bagi keduanya, artinya hambatan komunikasi politik belum bisa dicairkan
– Di tengah tahun 2018, Gubernur Irwandi, ditahan oleh KPK dan harus menjalani proses hukum atas tuduhan yang dialamatkan padanya, roda pemerintahan pun dijalankan oleh Plt.
Tahun Kedua: 2019
– Aceh sempat dilanda demam Plt. Khususnya di awal tahun 2019. Mulai dari Sekda, Direktur PDPA, BPKS, BPMA, MAA, MPA sampai Baitul Mal.
– Bulan April 2019 ditandai dengan demo besar-besaran mahasiswa yang sempat ricuh akhirnya selesai ketika Plt. Gubernur menemui mahasiswa atas tuntutan menutup PT EMM.
– Sikap hati-hati Plt. Gubernur terkadang membuat banyak pihak kurang bergairah, namun sebenarnya di sisi lain dia mencoba mengambil pendekatan yang berbeda dengan Pak Gubernur yang cenderung sangat antusias. Komunikasi politiknya pun cenderung hati hati.
Catatan:
Harus diakui, kerja keras yang dilakukan selama ini terpaksa dilalui dengan ujian yang cukup berat. Bisa dipastikan ke-15 program unggulan Aceh Hebat yakni Aceh sejahtera (JKA plus), Aceh SIAT (Sistem Informasi Aceh Terpadu) dan Aceh Carong (cerdas), Aceh Energi, Aceh Meugoe dan Meulaot (pertanian dan ekonomi maritim), Aceh Troe (makanan dan gizi), Aceh Kreatif, Aceh Kaya, Aceh Damai, Aceh Teuga (olahraga), Aceh Green, Aceh Seuniya (penyediaan rumah untuk masyarakat miskin dan pasangan muda) dan Aceh Seumegot (memastikan tersedianya seluruh sarana dan prasarana) tentu akan terkena dampaknya.
Sebagaimana yang kita lihat di berbagai baliho ukuran besar di kota Banda Aceh, Aceh Hebat diklaim sudah memberikan hasil yang signifikan. Naiknya pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia dan turunnya kesenjangan pendapatan, kemiskinan dan pengangguran menjadi bagian dari upaya realisasi yang sudah coba dilakukan. Sebuah langkah akuntabilitas yang baik kepada publik. Namun demikian, capaian ini jikalah benar, tentu masih sangat terbatas/minim hanya pada aspek ekonomi kebanyakannya.
Dalam waktu yang tersisa 3 tahun lagi, program unggulan lain seperti Aceh Carong, Aceh SIAT, Aceh Energi, Aceh Troe, Aceh Meugo dan Meulaot, Aceh Teuga, Aceh Green, Aceh Seuniya dan Seumegot tentu perlu lebih dipacu lagi. Waktu yang tersisa dan program unggulan yang belum sepenuhnya tertunaikan akan menjadi pekerjaan rumah berat bagi keduanya.[]






