BANDA ACEH – Pemusik Moritza Taher atau biasa disapa Momo menilai, musikalisasi secara keseluruhan masih mengadopsi gaya puluhan tahun lalu. Padahal untuk maju, baik dalam aransemen maupun penampilan, musikalisasi puisi harus berani keluar dari pakemnya.

“Harus berani memainkan musik dengan bebas, tidak mengadopsi dengan cara-cara yang kaku dan tidak berkembang,” kata Moritza Taher saat menyampaikan penilaian dewan juri pada acara Festival Musikalisasi Puisi dan Lomba Lagu berbahasa Daerah se-Aceh di teater tertutup Taman Budaya, Banda Aceh, Rabu, 14 Desember 2016.

Momo–sapaan akrab Moritza–dan dewan juri lainnya Saiful Bahri (Penulis), serta Ramdhiana (Dosen Seni) menyampaikan catatan untuk perkembangan Musikalisasi di Aceh. Pertama, peserta muda masih banyak memilih puisi yang belum mampu diterjemahkan secara baik. Sebaiknya pilih puisi yang sesuai dan mudah diaransemen.

Catatan kedua terkait vokal, dewan juri menilai masih banyak yang harus dikembangkan, baik dalam lagu puisi maupun pembaca puisinya. Selanjutnya, dewan juri menilai semua grup cenderung mirip memulai aransemen. Mereka diminta untuk berani mempertajam musik. Sementara dalam penampilan tersebut hanya ada tiga grup yang berani memilih genre tidak biasa dari musikalisasi biasa.

Dewan Juri juga meminta peserta untuk berani keluar dari genre biasanya musikalisasi.[]