BANDA ACEH – Bahaya malas itu besar pengaruhnya, terutama dalam kita beribadah mahdhah. Hal ini perlu dihindari agar terhindar dr dausa dalam ibadah yang tidak kitakerjakan.

Demikian disampaikan Ustaz Dr H Tarmizi Jakfar MA, dalam ceramah subuhnya dengan tema “Bahaya Malas”. Ceramah tersebut berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Ahad, 12 September 2021.

“Para ulama mendifisikan bahwa malas itu yaitu suatu pekerjaan atau ibadah yang sanggup dikerjakan tapi tidak dilaksanakan. Ada beberapa kiat dijelaskan dalam menghindari malas yaitu: Pertama, Menggunakan waktu dengan se baik-baiknya. Seorang ulama Imam Hasan Basri bercerita. Pada hari itu selalu datang waktu baru baru sehingga dia (hari/waktu) menyeru kepada kita. “Gunakanlah aku kalau tidak, sampai kiamatpun kita tidak berjumpa lagi,” katanya.

Kedua, kata dia, Berkawanlah dengan orang-orang baik. Rasulullah bersabda, “Berkawan dengan orang baik seperti berkawan dengan orang yang menjual minyak wangi pasti terjiprat wanginya. Tetapi berkawan dengan orang jahat deperti berkawan dengan tukang besi, akan terkena jiprat apinya.

“Ketiga, Bacalah kisah-kisah ulama Salafus Saleh. Timbul inspirasi dalam mencontohinya sehingga akan terhidar dari kemalasan. Keempat, Selalu berdoa kepada Allah agar terhimdar dari kedhaifan dan kemalasan untuk dapat mengabdi dan beribadah kepadaNya,” kata Tarmizi Jakfar.

Melepaskan Ikatan Syaitan

Dia mengatakan, seseorang sering malas karena pengaruh syaithan, misalnya saat habis magrib, golek-golek tidur. Syaithan berbisik masih panjang waktu tidur terus. Ada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Hadis Muslim. Bunyinya bahwa syaithan sudah mengikat orang tidur dengan tiga ikatan.

“Ikatan itu akan lepas yaitu saat terbangun tengah malam. Misalnya langsung membaca zikir misalnya subhanallah walhamdulillah, dan seterusnya. Terlepas satu ikatan. Kemudian dilanjutkan mengambil wuduk, terlepas dua ikatan. Kemudian melaksanakan salat, semua iktan yang dilakukan syaithan terlepas,” katanya.

Kata dia, para ulama berbeda dalam menafsir hadis ini. Ada yang berpendapat bahwa salat yang dilakukan saat bangun itu yaitu shalat Inya (shalat wajib). Sedangkan yang lain mengatakan bahwa shalat malam (shalat sunat). Namun, alasan itu lemah karena shalat sunat tidak sampai dibelenggu syaithan. Salat sunat itu adalah kemauan kita sendiri.

“Dalam melaksanakan shalat sunat juga dianjurkan jangan berlebihan. Rasulullah bersabda, “Lakukanlah ibadahmu jangan belebih-lebihan sehingga jangan sampai kamu bosan nanti.” Dicontohkan, ada seorang wanita muda shalat malam dengan maksud agar cepat mendapatkan jodoh. Dia shalat sunat sampai pagi. Lama-lama, dia bosan karena yang diharapkan untuk mendapatkan jodoh belum terkabul. Tentu ini sudah melenceng dari tujuan shalat itu sendiri. Salat sunat itu biasa saja, dilakukan tiap hari. Misalnya tahajut 4 rakaat dan watir 3 rakat. Begitu juga shalat dhuha 2 atau 4 rakaat.”[]