Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Tahun ini Hari Kemerdekaan Indonesia diperingati tak lama berselang setelah umat Islam memperingati Tahun Baru Hijriyah 1444 yang jatuh pada 30 Juli 2022 berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri. Dinamakan Hijriyah karena hitungan tahunnya dimulai pada tahun nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Adapun untuk awal bulannya disepakati Muharram, walaupun menurut beberapa pendapat ulama sejarah nabi tidak keluar dari Mekkah kecuali pada akhir bulan Shafar dan tiba di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal.

Dalam Islam, hijrah selalu identik dengan perjuangan kemerdekaan. Karena pada dasarnya tujuan utama hijrah saat itu adalah membebaskan umat Islam dari penganiayaan dan penindasan serta kesewenang-wenangan musyrikin Mekkah. Untuk tujuan tersebut, umat Islam telah melakukan beberapa hijrah kecil sebelumnya. Di antaranya, hijrah dari Mekkah ke Ethiopia yang terjadi pada bulan Rajab pertengahan tahun kelima kenabian. Hijrah pertama ini diikuti sekitar 16 orang, terdiri dari 12 laki-laki dan empat perempuan. Selang beberapa bulan setelah peristiwa tersebut, Rasulullah kembali mengungsikan sahabatnya dalam jumlah lebih banyak, 83 laki-laki dan 18 perempuan, juga ke tempat yang sama, yaitu Ethiopia.

Peristiwa hijrah pertama dan kedua dilatarbelakangi oleh dakwah terang-terangan yang dilancarkan Rasulullah pada tahun empat kenabian, yaitu setelah tiga tahun lamanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Allah menurunkan firmannya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (al-Hijr: 94).

Sejak saat itu jumlah umat Islam semakin hari kian bertambah sehingga menyulut emosi dan amarah pemuka musyrikin Mekkah. Kaum muslimin menerima akibatnya, yaitu ancaman dan kekerasan fisik. Kekejaman yang semakin menjadi-jadi mendorong Rasulullah mengungsikan beberapa sahabatnya ke Ethiopia. Namun, sejarah tidak berhenti sampai di situ, mereka terus melakukan berbagai siksaan dan kezaliman terhadap sisa kaum muslimin yang menetap di Mekkah, bahkan sempat diboikot selama tiga tahun lamanya (7-10 kenabian), dan semakin meningkat setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Saat itu nabi sempat mencari suaka ke Taif, namun gagal. Akhirnya tahun 13 kenabian terjadilah peristiwa hijrah besar-besaran ke Yatsrib. Satu kota di Utara Mekkah yang kemudian dikenal dengan Madinah.

Surah al-Kahfi; Antara Spirit Hijrah dan Kemerdekaan

Dalam beberapa sumber disebutkan, termasuk di antaranya Rahiq al-Makhtum karangan Shafiurahman al-Mufarakfuri, ulama hadis dari Mubarakpur India, bahwa hijrah ke Ethiopia dilatarbelakangi oleh turunnya surah al-Kahfi sebagai jawaban Allah atas pertanyaan orang Quraisy tentang tiga hal untuk membuktikan kenabian Muhammad Saw. Pertanyaan yang pada awalnya adalah propaganda dari pendeta Yahudi Madinah berkisar tentang para pemuda yang tertidur dalam sebuah gua, seorang raja yang mengelilingi Timur dan Barat serta persoalan roh. Pertanyaan itu diajukan kepada nabi pada saat di mana umat Islam sedang bergelut dengan penindasan fisik dari kaum musyrikin Mekkah, hal mana membuat nabi semakin berat dalam menjalani dakwahnya secara terbuka.

Ibnu ‘Abbas menceritakan, ketika nabi dicecar dengan tiga pertanyaan di atas, beliau mengatakan, “Saya akan berikan jawabannya esok hari”, tanpa menyebutkan “insya Allah”. Nabi mengandalkan kebiasaan, di mana setiap kali ada pertanyaan tidak lama setelah itu wahyu akan turun memberi jawaban. Namun, tidak kali ini, wahyu sempat macet berhari-hari. Ada riwayat menyebutkan sampai 15 hari. Praktis saja setelah sekian lama wahyu tidak turun orang Quraisy semakin mendapat ruang untuk meragukan dakwah nabi, membulinya dengan mengatakan, “Muhammad menjanjikan kita besok, tapi sekarang sudah 15 hari tidak ada jawaban apa-apa”.

Manakala kesedihan memuncak dalam diri nabi, Jibril datang membawa surah al-Kahfi. Allah mengisahkan beberapa pemuda dan sosok Zulqarnain dalam surah tersebut sebagai penguat atas apa yang sedang menimpa rasul-Nya. Namun tidak lupa Allah menegur nabi-Nya agar selalu menyebut “insya Allah” ketika menjanjikan sesuatu, jangan langsung mengatakan “besok”. Pertanyaan tentang roh secara khusus dijawab dalam surah al-Isra’, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (al-Isra’: 85).

Kisah para pemuda (Ashabul Kahfi) yang lari dari kampung halamannya dan bersembunyi dalam sebuah gua hingga tertidur sekian lama menjadi inspirasi dan spirit kepada nabi untuk mengungsikan sahabatnya dengan cara hijrah. Ummu Salamah bercerita, “Memang saat itu tidak seorangpun yang berani menyakiti fisik nabi, karena cukup kuat dibela oleh paman dan kaumnya, tetapi beliau tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat satu persatu sahabatnya disiksa dan difitnah, sehingga beliau berkata, “Di Ethiopia ada seorang raja yang siapapun menetap di wilayahnya akan aman dan takkan dizalimi, pergilah ke sana sampai Allah memberi jalan keluar kepada kalian dari ujian ini”. Ummu Salamah melanjutkan, “Kamipun keluar dalam beberapa kelompok sampai semuanya bertemu di sana. Kami tiba di negeri yang baik, berjumpa dengan tetangga yang baik, mendapatkan jaminan keamanan atas agama kami serta tak ada kezaliman yang kami takuti darinya” (HR: Baihaqi).

Kepergian gelombang pertama yang dipimpin Utsman bin ‘Affan dan istrinya Ruqayyah dikomentari oleh Rasulullah, “Keduanya adalah rumah (keluarga) pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth Alaihimassalam’. Allah menuturkan peristiwa orang-orang yang hijrah tersebut dalam salah satu firman-Nya, “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui” (an-Nahl: 41).

Ibnu Katsir menukil satu riwayat dalam menafsirkan ayat di atas, bahwa ‘Umar bin Khattab setiap kali memberi sesuatu kepada siapa saja dari kelompok muhajirin (orang yang berhijrah) ia berujar, “Ambillah dengan keberkahan dari Allah, ini adalah apa yang dijanjikan Allah untukmu di dunia, adapun yang disimpan untuk akhirat kelak lebih utama dari ini”, lalu ia membaca ayat di atas.

Syaikh Abdullah An-Najdi menyebutkan bahwa ada tiga kisah yang Allah paparkan dalam surah al-Kahfi, pelarian Ashabul Kahfi, perjalanan Khidir, dan Nabi Musa, serta kejayaan seorang raja bergelar Zulqarnain. Ketiga-tiganya memberikan pelajaran luar biasa kepada orang mukmin. Kisah Ashabul Kahfi menegaskan urgensi hijrah demi iman dan agama. Jika hak beragama serta kebebasan berideologi dirampas maka jalan keselamatan adalah mencari tempat lain (suaka) yang bisa memberi jaminan atas hak asasi tersebut. Inilah yang dialami oleh sekelompok pemuda pada era Decyanus (249 – 251 M), lari dan bersembunyi dalam gua demi mendapatkan kebebasan atas keyakinan mereka.

Allah berfirman, “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (al-Kahfi: 10).

Begitu pula dengan cerita perjalanan Nabi Musa dan Khidir yang menampilkan sejumlah keanehan, di mana secara kasat mata bertentangan dengan logika dan hukum. Semuanya mengisyaratkan bahwa orang-orang yang hari ini ditindas dan haknya dirampas, suatu hari nanti mereka akan terbebas dari itu semua dan berbalik menjadi para penguasa. Ini adalah spirit bagi pejuang kebebasan dan kemerdekaan agar tetap istikamah dalam perjuangan. Sama halnya dengan kisah Zulqarnain yang membuat benteng super kokoh demi melindungi sekelompok manusia dari kekejaman Ya’juj dan Ma’juj yang merupakan contoh konkret tentang bagaimana seharusrnya sikap dan kepribadian seorang pemimpin atau penguasa. Zulqarnain adalah sosok raja adil yang mengembara dari Timur ke Barat demi melindungi rakyat lemah dan membebaskan mereka dari berbagai penindasan dan penjajahan.

Ruh Kemerdekaan

Islam mengajarkan bahwa tujuan puncak dari hijrah adalah mendapatkan hak dan kebebasan dalam berkeyakinan. Karena bagaimanapun, seseorang tidak akan pernah merasakan kemerdekaan penuh hinggalah ia mendapatkan haknya secara penuh dalam berkeyakinan serta bebas mengekspresikan keyakinannya tersebut. Inilah maksud dari hijrah, memperjuangkan kemerdekaan dalam makna yang sesungguh-sungguhnya. Karena di mana-mana sasaran penjajahan pada dasarnya adalah ideologi. Menundukkan masyarakat jajahannya agar sepaham dengan idelogi penjajahnya. Itulah yang dilakukan oleh raja-raja terdahulu dan para penguasa zaman moderen sekarang.

Mahasiswa teologi Universitas Leiden Snouck Hurgronje punya kontribusi besar dalam memodifikasi keyakinan dan keberagamaan masyarakat Aceh agar sesuai dengan selera pemerintah kolonial saat itu.

Berbeda dengan Islam yang tidak pernah mencampuri urusan keagamaan dan keyakinan masyarakat manapun. Islam hadir—di wilayah manapun sebagai penakluk—untuk membebaskan manusia dari perbudakan sesama mereka. Membiarkan mereka dengan ideologi apa saja yang mereka mau. Islam tidak hadir untuk memaksa manusia menjadi muslim, Allah dengan terang melarang hal itu dalam Alquran, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” (al-Baqarah: 256).

Ayat ini turun berkaitan dengan keinginan beberapa orang Madinah yang anaknya telah menganut Yahudi dan Nasrani, lalu dipaksa agar menjadi muslim. Allah melarangnya sampai anak-anak tersebut memilih sendiri secara sukarela dan tanpa paksaan.

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (al-Kahfi: 29).

Adakah di sana kebebasan yang lebih bebas dari yang diberikan oleh Islam. Allah berfirman, “Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus: 99).

Atas dasar itu, Islam mengakui perbedaan dan keragaman keyakinan. Piagam Madinah yang menempatkan masyarakat Yahudi bersama-sama dengan kaum Muslimin dalam satu komunitas menjadi bukti kuat akan hal tersebut. Begitu juga kebebasan beragama yang diberikan kepada kafir Quraisy saat peristiwa penaklukan kota Mekkah. Rasulullah membebaskan mereka dengan kekafirannya sekaligus, seraya bersabda, “Pergilah, kalian bebas”. Begitu selanjutnya perlakuan Khalifah Umar ketika menaklukkan Quds (Palestina). Ia memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen dalam menjalankan agamanya dan menjamin keamanan atas gereja-gereja mereka.

Bahkan lebih dari itu, Islam mengakomodir diskusi antaragama. Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (an-Nahl: 125). Bahkan jika dialog deadlock, Islam mengajarkan satu prinsip yang luar biasa, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (al-Kafirun: 6). Sikap toleransi dan saling menghargai menjadi bagian penting dalam memaknai kemedekaan.

Namun, tampaknya hari ini, nilai-nilai prisipil itu semakin memudar di tengah-tengah masyarakat yang larut dalam euforia perayaan hari kemerdekaan. Mungkin karena mereka merayakan, bukan memperingati. Tanpa sadar, sambil meneriakkan “merdeka” kita ternyata masih saling memaksa agar yang berbeda menjadi sama dengan kita, begitu juga sebaliknya. Sesama umat Islam masih saling menyalahkan dan menyesatkan, terkotak-kotak dalam pemahaman keagamaan yang parsial. Setiap jamaah fanatik dengan guru atau ustaznya masing-masing. Tak jauh beda dengan para guru yang selalu membenarkan dan membela jamaahnya, menjaga viewers dan subscribers-nya. Wallahua’lam.[]

* Penulis adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee di Lhokseumawe.