KAPTEN LET PANDE
Episode 4 – Cerita Bersambung – Novel Serial
Karya: Thayeb Loh Angen
Setelah matahari terbit, Kapten Le Pande dan pasukannya berkumpul di aula puri. Dua ratus orang pandai besi, seribu orang tentara, dan puluhan orang ahli dari Turki, berkumpul di sana. Sejak didirikan lima belas tahun lalu, ini hari paling ramai orang berkumpul di aula puri itu. Pertemuan pagi ini membincangkan jadwal pelatihan membuat meriam dan senjata lainnya.
“Kapten Le Pande. Engkau dan pasukanmu belajar membuat meriam saja. Perisai, pedang, dan baju zirah, biarkan diurus oleh utoh ayahmu,” Syah Bandar melirik Kapten Le Pande di sampingnya.
“Berapa orang yang kusertakan, Syah Bandar?”
“Dua ratus orang untuk membuat meriam. Selebihnya lakukan tugas biasa lainnya.”
Setelah Utoh dari Istanbul selesai berbicara, Laksamana dan Syah Bandar membawa mereka ke tempat membuat senjata di seberang rumah tentara. Semua bahan untuk membuat senjata telah bertumpuk di ruangan dekat benteng itu.
Kapten Le Pande mencium tangan Utoh Maddiyah, lalu berbaur dengan para tentara kembali. Laksamana dan Syah Bandar berbincang dengan Utoh Maddiyah dan utusan Istanbul.
“Sultan telah menyiapkan rumah dan sawah untuk para utusan Sultan Turki ini di dekat Pantai Cermin. Yang bertugas mengajarkan agama tinggal di sana. Sementara yang bertugas membuat senjata tinggal di sini berasamamu,” Syah Bandar menyalami Utoh Maddiyah yang memakai surban coklat seperti biasanya.
“Rumah mereka telah kami siapkan. Mari kita bekerja,” Utoh Maddiyah mempersilakan utusan dari Istanbul ke pabrik senjata.
Laksamana dan Syah Bandar beserta pengawalnya meninggalkan tempat itu.
Di ruangan luas itu, para utoh membakar tembaga dan besi lalu memukul-mukulnya. Suara tang-ting benturan logam tersebut terdengar sambut menyambut, terus menerus, seakan-akan itu musik mengumumkan perang kepada pasukan Portugis yang telah menduduki wilayah lindungan Sultan Aceh di Malaka. Orang-orang yang berbicara di sana harus berteriak, itupun tidak semuanya terdengar.





