Oleh Taufik Sentana*

Masing tempat memiliki kekhasan lokalnya sendiri. Selama itu tidak menyebelahi syariat. Di Medan, menjelang puasa ataupun lebaran ada kegiatan “motong” sebutannya. Di Riau ada tradisi mandi di sungai sebagai bagian dari cara membersihkan diri dengan gembira sebelum Ramadan.

Sedang di Aceh ada sebutan (kebiasaan) “meugang”. Konon kegiatan ini sudah bermula sejak masa kesultanan Aceh. Saat itu, justeru Sultan yang menyediakan daging sapi dan kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat jelang Ramadan. Lalu kebiasaan itu menjelma dalam wujud yang lain seperti kita kenal sekarang.

Dari kebiasaan ini terjalin silaturrahim antaranggota keluarga khususnya, baik yang jauh atau dekat. Seorang menantu, misalnya memberikan sekiloan daging untuk keluarga mertuanya. Bila kondisi jauh, sebagian mengirimkan uang untuk keperluan tersebut. Masing masing keluarga umumnya melestarikan tradisi ini walaupun mungkin keadaan ekonomi sedang sulit atau walaupun ketersediaan hewan di Aceh yang terasa masih kurang.

Pemerintahpun ikut dalam penyediaan sapi dan kerbaunya, lewat mekanisme tertentu seperti izin pembelian hewan dari luar Aceh, pemeriksaan kesehatan, penyesuaian harga dan penentuan waktu dan lokasinya. Hal itu agar kondisi masyarakat tetap normal dan kebutuhan terpenuhi. Untuk harga daging perkilo biasanya sekitar Rp 120.000 sd Rp 200.000, sesuai kondisi pula.

Khusus dalam masa siaga musibah Korona sekarang ini, agaknya akan ada kisah lain. Sebagian mungkin menyisihkan dana meugang itu untuk keperluan lain, atau bahkan tak memiliki anggaran untuk itu. Beberapa daerahpun  tidak mengkhususkan lokasi penjualannya, agar terhindar dari kerumunan/keramaian: Teknisnya di bebaskan di gampong setempat dengan beberapa pertimbangan harga dan lainnya.

Untuk tetap melestarikan tradisi ini dalam keadaan pandemi di daerah kita, Pemda bisa bersinergi dengan para donatur dan LSM terkait serta elemen lainnya perihal penyediaan dan pendistribusian. Terutama lagi dalam upaya semarak Ramadannya sendiri agar lebih khidmat dan berkesan serta memberikan kegembiraan hingga bulan selanjutnya. Sebab, kita berharap agar cerita meugang ini tidak mengaburkan hakikat Ramadan dan amal-ibadah di dalamnya.[]

*Peminat kajian sosial budaya.
Menetap di Aceh Barat.