BANDA ACEH – Alunan musik mulai terdengar sejak masuk dalam pekarangan Taman Ratu Safiatuddin. Anak manusia dari berbagai usia berdesakan berebutan masuk pintu pagar yang dijaga ketat petugas tiket dengan pengawalan polisi.
Ada yang berbeda pada Sabtu, 12 Maret 2016, malam, di pentas utama taman Ratu Safiatuddin. Lapangan di depan pentas tersebut tak sepi seperti malam-malam biasa. Lapangan yang lebih luas dari lapangan bola kaki itu dipadati anak manusia. Menonton penyanyi Aceh, Bergek.
Tiba-tiba dari dekat pintu utama terdengar suara teriakan panitia yang sepertinya bagian keamanan dan tiket.
“Woi… bek ka rhak rot nan,” ucap pria kekar itu sembari berlari ke arah pagar yang hanya ditutupi terpal plastik.
Pria berbadan besar itu mengejar beberapa pemuda yang mencoba memanjat pagar pembatas yang disediakan panitia. Beberapa lolos masuk sedangkan sisanya, tak jadi masuk dan harus mundur untuk masuk secara sah melalui pintu utama.
Walaupun sudah membayar tiket seharga 20 ribu, para penonton yang mencoba masuk harus kembali berdesakan dengan penonton lain yang mencoba masuk melalui pintu utama.
Cerita betlanjut ke pentas utama. Iringan musik mulai terdengar keras. Satu demi lagu selesai dinyanyikan. Beberapa kali air disemprotkan mobil pemadam kebakaran ke arah penonton. Musik mulai berhenti, dari mikrofon utama terdengar seorang pria minta para penonton tak berbaur antara pria dan wanita. Berkali-kali ia mengingatkan hal tersebut.
Musik yang sempat berhenti karena pelantang suara utama diambil alih panitia mengundang sorakan penonton. “Sabar dulu kita evakuasi anak-anak,” ucap seorang anggota panitia.
Panitia meminta penonton agar tetap tertib. Hal tersebut juga diulang beberapa kali. Tim medis pun dipanggil. Penonton mulai tak sabar dan kembali bersorak.
“Grah that hiburan sang,” kata Isvani salah seorang penonton.[]


