Senin, Juli 15, 2024

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...

Kadispora Lhokseumawe Apresiasi Pejuang...

LHOKSEUMAWE - Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XVII Provinsi Aceh di Aceh Timur...
BerandaNewsCerita Mantan Separatis...

Cerita Mantan Separatis RMS yang Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Jakarta – Desa Aboru, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, dikenal sebagai basis kelompok separatis RMS (Republik Maluku Selatan). Ada sejumlah warga yang ditangkap karena mengibarkan bendera RMS dalam berbagai kesempatan.

Kisah yang paling cukup dikenal adalah saat sejumlah warga Aboru menari Cakalele dalam sebuah acara yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007. Sebanyak 6 orang yang masih dalam ikatan keluarga diadili dan mendapat hukuman berbeda-beda.

Beberapa di antaranya sudah keluar, seperti Mersi Riry yang dihukum 7 tahun penjara di LP Nusakambangan. Namun belum lima tahun, ia sudah keluar karena berkelakuan baik sehingga mendapat remisi.

Mersi yang kini bekerja sebagai nelayan mengaku tak pernah benar-benar bergabung dengan RMS. Ia ikut menari Cakalele karena diajak oleh intelectual leader dalam perbuatan makar tersebut.

“Kita sekampung diajak. Karena dengar dapat uang, pergi saja sudah menari,” cerita Mersi saat berbincang dengan detikcom di Aboru pada Rabu (17/8/2016) lalu.

“Tapi malah ditangkap. Ya sudah terlanjur mau bagaimana lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, satu penari Cakalele yang juga telah bebas, Arens Saiya mengaku bergabungnya ia dengan kelompok separatis itu berawal dari perkenalannya dengan pimpinan Forum Kedaulatan Maluku (FKM) RMS, Alex Manuputty. Kala itu Alex datang dari Ambon untuk memberi doktrin-doktrin di Aboru.

“Beliau sosialisasi RMS. Dia asli Ambon, bukan Aboru. Dia turun ke negeri kami, saya ikut dia. Kami orang awam, orang kampung,” kata Arens dalam kesempatan yang sama.

Pria berusia 43 tahun ini pernah mendapat kekecewaan dari sikap aparat yang merendahkannya sebagai warga Aboru. Ia lalu mengibarkan empat bendera RMS di depan rumahnya.

Itu tahun 2003. Saya ditahan, dihukum 1 tahun 3 bulan. Terus saya keluar masih ikut Alex. Lalu tahun 2007 (saat peristiwa Cakalele) itu sama Simon Saiya, dia ambil data tentang kami dari Alex,” tutur bapak dua anak itu.

Saat penahanan yang kedua kali inilah Arens baru merasa apa yang ia lakukan hanyalah perbuatan sia-sia semata. Ia dan keluarganya yang terlibat dengan RMS pun menyatakan tidak ingin berpaling dari kedaulatan NKRI.

“Saya menyesal kok kenapa ikut seperti itu. Tidak ada yang bisa tanggung jawab terhadap kami. Kami orang awam dikorbankan. Saya bertobat. Saya sudah bicara ke mereka untuk tinggalkan semua karena yang dilakukan tidak benar, tinggalkan keluarga, anak-anak putus sekolah,” papar Arens.

“Saya bangga jadi Indonesia. Sekarang pemerintah perhatikan orang Aboru, swadaya, dia kasih masuk pembangunan, dari tentara 3 orang Aboru masuk. Sudah lama tidak boleh Aboru masuk TNI. Sekeping pun tidak bayar,” imbuhnya.

Bertobatnya Arens ternyata tidak lepas dari peran serta Kodam XVI/Pattimura. Di bawah kepemimpinan Pangdam Pattimura Mayjen Doni Monardo, TNI mengedepankan pendekatan kesejahteraan terhadap warga.

Personel Kodam memberi banyak pembinaan dan bantuan sosial. Mengajak warga Aboru untuk kembali mencintai Indonesia melalui sejumlah program termasuk progam andalan Pangdam Pattimura, Emas Hijau (budidaya tanaman) dan Emas Biru (budidaya ikan dan hasil laut).

Bahkan Doni bersama Menteri BUMN Rini Soemarno merayakan HUT RI ke-71 kemarin di Aboru. Bantuan-bantuan CSR dari berbagai BUMN difasilitasi Kodam Pattimura diberikan kepada warga. Meski awalnya Arens dkk sempat apatis, pada akhirnya mereka justru menjadi salah satu pelopor agar warga Aboru mau bekerja sama dengan pemerintah dalam pembangunan daerah setempat.

“Saya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Yang bisa buat saya sadar Babinsa Serda Rony Sinai. Beliau beri nasihat saya.Padahal saya benci aparat. Dengan HUT RI ke-71 kami merasa gembira karena yang hadir ibu menteri, Bapak Panglima (Mayjen Doni) dan seluruh muspida. Saya kembali dan bangga. Itu bikin saya tinggalkan semua,” beber Arens.

Kini Arens tengah menunggu bantuan Keramba agar ia dan warga Aboru bisa mendapatkan ikan bukan hanya dari hasil tangkapan saja. Ia juga kembali bertani untuk bisa menghidupi keluarganya. Namun Arens berharap pemerintah dapat memperhatikan akses jalan di Pulau Haruku, sehingga hasil tani dan ikan yang didapatnya bisa dipasarkan di luar Aboru.

“Maka kita harap akses jalan bisa dilanjutkan. Karena jalan putus. Jadi terpaksa tunggu kapal datang kalau mau jual. Akses jalan pantai selatan di Pulau Haruku. Dari Aboru ke Wasu,” pinta dia.

“Kehadiran Kodam, bukan hanya sekarang. Sudah sering kali, ada pengobatan massal, kegiatan untuk anak-anak sekolah. Kami melihat Kodam yang paling bagus, dia merangkul semua. Kodam ambil alih semua termasuk di Ambon. Beta atas nama warga Aboru berterimakasih kepada bapak Panglima,” tambah Arens.

Hal senada juga disampaikan oleh saudara Arens yang sudah terlibat lama di RMS, Josias Sinay (50). Josias baru beberapa bulan keluar dari penjara namun sudah tersentuh dengan pendekatan yang dilakukan Kodam Pattimura.

“Saya merasa senang, karena saya selalu dibina, bertukar pikiran dengan Bapak Panglima, Pak Hasyim (Kapendam Pattimura), Pak Edy (Danrem Maluku). Mereka selalu rangkul saya. Saya merasa diperhatikan,” tutur Josias.

Kepada detikcom, Josias bercerita ia sudah sejak SMP ikut terlibat dengan RMS yakni sekitar tahun 1980-an. Bahkan ia kerap kali hidup dalam pelarian hingga di dalam hutan karena dikejar-kejar aparat atas perbuatan separatisnya.

“Saya paling kecil dulu. Saya masuk hutan lari 5 tahun karena mau ditangkap. Dikejar, dulu karena kalau terjadi apa-apa yang dicari saya. Walaupun saya tidak lakukan,” ucapnya.

Josias sering menjadi pengerek bendera RMS saat upacara HUT RMS pada 24 April. Dalam kasus Cakalele, ia dihukum 10 tahun bui. Sebagian masih ada yang dipenjara, termasuk John Teterisa yang menjadi salah satu pimpinan perbuatan makar itu.

Meski sudah puluhan tahun ikut terlibat di RMS, Josias baru sekali masuk penjara. Titik itulah yang membuatnya tersadar apalagi karena ia dipenjara, dua anaknya putus sekolah demi membantu sang ibu menghidupi kehidupan mereka tanpa seorang bapak.

“Selama ini saya merasa rugi, saya malah dipenjara korbankan anak-anak. Anak-anak saya dua putus sekolah. Karena dia lihat istri saya kerja capek. Bantu istri kerja. RMS merugikan,” kata Josias.

Tak hanya itu, Josias merasa dikhianati oleh RMS. Teman-teman seperjuangan 'makarnya', tak ada yang perduli saat ia ada di dalam penjara.

“Selama saya di penjara tidak ada satu orang pun yang datang atau menjenguk saya. Di situ saya merasa sakit hati. Saya sendiri saja yang ditangkap,” ujarnya.

Kini pembangunan sudah mulai masuk ke Aboru. Sebelumnya Desa Aboru 'dianaktirikan' karena dianggap basis RMS. Mantan-mantan separatis itu merasa bersyukur dan berharap pemerintah mau lebih memperhatikan warga Aboru. Seperti yang sudah mulai dipelopori oleh Kodam Pattimura.

“Agar anak-anak saya, generasi mereka bisa lebih bagus lagi. Cukup saya saja yang gagal. Saya pulang dari penjara lihat anak-anak saya, saya langsung menangis minta ampun,” kisah Josias dengan sedih.

Sama dengan Arens, Josias kini bertani sambil menjadi nelayan. Ia juga menjadi peracik obat-obatan dari tanaman. Akibat lama di hutan, Josias jadi ahli soal tanaman. Ia berharap agar dapat merasakan kemerataan pembangunan oleh pemerintah.

“Kemerdekaan adalah keadilan untuk semua,” tutup Josias.[] Sumber: detik.com

Baca juga: