BANDA ACEH – Matahari hampir terbenam sore itu. Ketika menoleh ke sisi kanan ujung jalan Jembatan Krueng Cut, Aceh Besar, tampak barisan lapak menjajakan tiram yang sudah dikemas dalam plastik transparan.
Tiram adalah sekelompok kerang-kerangan dengan cangkang berkapur dan relatif pipih. Tiram terkenal lezat ketika dikonsumsi. Tiram juga menyediakan beberapa nutrisi, maka tak heran hewan laut ini sering dijadikan sebagai menu favorit restauran ataupun masakan rumah tangga. Sebelum diperjual belikan biasanya tiram-tiram ini dicongkel terlebih dahulu dari cangkangnya yang terkenal keras.
Ketika menghampiri salah satu lapak dengan ramahnya para pedagang menyapa calon pembeli seraya mengatakan “piyoh-piyoh, lagak that nyoe tirom ban diplah. (Mampir-mampir, bagus ini tiram baru saja dibelah).
Barisan lapak tersebut mengisahkan suka duka pedagang hewan laut yang mempunyai rasa lezat itu.bBermodalkan potongan seng sebagai atap, lapak tersebut terlihat kokoh dengan penyangga batang kayu seadanya.
Syamsariah, 48, salah seorang pedagang di lapak tiram tersebut mengatakan sudah 12 tahun berdagang tiram. Tiram-tiram yang dijejalkan itu dijual dengan harga Rp 15 ribu perbungkusnya.
Menurutnya pendapatan berjualan tiram tidak menentu, jika diborong pembeli ia bisa meraup 120 ribu perharinya, namun jika sepi saya cuma dapat 15 ribu. Tapi akhir-akhir ini, kata dia, pembeli sudah mulai berkurang bahkan perharinya tiramnya hanya laku 2 sampai 4 bungkus,” kata Syamsariah.
Kisah serupa diceritakan pedagang lainnya, Suryati, 34, yang mengatakan tiram-tiram yang sudah dijejalkan rapi di lapak belum tentu habis terjual.
“Seharinya terkadang cuma laku 2 bungkus saja,” kata Suryati.
Menurut Suryati, tiram yang dijualnya di lapak itu terkadang didatangi pembeli dari luar Aceh, bahkan dari luar negeri, misalnya negeri Sakura (Jepang). Hal inilah yang sangat membanggakan baginya.
Suryati menambahkan, dirinya memilih berdagang tiram lantaran tidak ada pekerjaan lain. Meskipun ia hanya mampu menjual 2 bungkus perharinya, dia tetap bersyukur, karena dengan berdagang tiram ia turut membantu ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Suryati dan pedagang lain sudah bertahun-tahun bertahan di lapak seadanya di tepi Jembatan Krueng Cut. Hujan dan angin bukan masalah, yang terpenting bagi mereka adalah, tiram yang dikemas dengan plastik bening itu habis terjual.[]




