Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaNewsCerita Petani Karet...

Cerita Petani Karet di Tengah Pandemi, Harga Getah Anjlok Tak Kunjung Membaik

 

SUBULUSSALAM – Ismail Hasan Sipayung (60) seorang petani karet di wilayah Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, Aceh sehari-hari aktif mengurus kebun karet sebagai sumber mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Kebun karet milik Ismail Hasan Sipayang berada di Desa Lae Mbersih, Kecamatan Penanggalan berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota dengan jarak tempuh 15 menit jam perjalanan menuju kebun pria yang sudah mulai memasuki usia lanjut (lansia).

Di lahan seluas tiga hektare tersebut, terdapat ribuan batang tanaman Hevea brasiliensis yang ditanam sejak 2007 lalu. Saat itu tanaman karet menjadi primadona masyarakat, harga melambung tinggi mencapai Rp13 ribu per kilogram di tingkat petani.

“Awal-awalnya dulu harga karet lebih menjanjikan dari pada sawit. Tingkat petani saja harga karet Rp13 ribu per kilogram, apalagi kalau dibawa langsung ke pabrik bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram,” kata petani karet di wilayah Kota Subulussalam,  Ismail Hasan Sipayang kepada portalsatu.com, Minggu, 7 Februari 2021.

Namun seiring berjalannya waktu, harga getah basah perlahan mengalami penurunan dari Rp13 ribu per kilogram menjadi kisaran antara Rp5 ribu sampai Rp 6 ribu per kilogram di tingkat petani.

Sedangkan harga getah kering saat ini berada sekitar Rp7 ribu sampai Rp 7,5 ribu per kilogram di level petani. Sementara di pabrik Rp9 ribu per kilogram atau turun Rp11 ribu dari sebelumnya pernah mencapai Rp20 ribu per kilogram.

Akibat harga terus anjlok menyebabkan kebun karet di Kota Subulussalam tidak terawat dengan baik, termasuk tanaman karet milik Ismail Hasan Sipayang. Dampaknya, produksi getah menurun drastis sebelumnya dua Minggu sekali bisa mencapai satu ton dengan luas lahan tiga hektare.

“Sekarang dalam lima bulan paling yang terkumpul 2 ton, jauh sekali menurun produksi getah dibandingkan sebelumnya, mungkin karena faktor kebun tidak terawat karena harga anjlok,” ungkap Pak Payung panggilan akrabnya sehari-hari.

Penurunan harga tanaman yang dulunya menjadi komoditas unggulan masyarakat ini, terjadi sejak tujuh tahun terakhir. Sejak itu pula, banyak petani karet mengalihfungsikan lahan mereka menjadi kebun kelapa sawit.

Meski harga anjlok, Pak Payung masih rutin datang ke kebun karet yang saat ini sudah berumur sekitar 14 tahun untuk mengambil getah dengan cara dideres. Sejak harga anjlok, Ismail Hasan Sipayang tak lagi memakai jasa petani lain untuk mengambil getah di kebunnya.

“Dulu waktu harga mahal saya cari tukang deres untuk mengambil getah. Sekarang tak sanggup bayar ongkos tukang deres karena harga murah sekali, jadi terpaksa saya sendiri yang deres,” ucap Pak Payung.

Ismail Hasan Sipayang bersama sejumlah petani karet lainnya di wilayah Kota Subulussalam berharap harga tanaman Hevea brasiliensis itu bisa kembali naik, terlebih di tengah Pandemi Covid-19, kondisi ekonomi masyarakat menjadi lesu.[]

Baca juga: