Oleh Taufik Sentana*
Di tengah banjir informasi digital dan berkembangnya trend gaya hidup instan serta budaya pop yang menjamur, adalah suatu kearifan bila kita dapat berkaca kembali pada buku-buku yang pernah ditulis. Menemukan kembali daya hidup yang bersemayam dalam karya tulis yang dirangkum dalam buku-buku, baik buku klasik religi, sastra, populer, sejarah dan romantisme yang sehat. Atau sekadar memaknai kembali buku paket para siswa dan mahasiswa di kampus.
Kesemua buku-buku itu menyimpul tali zaman dan kisahnya sendiri. Sebagian besar ditulis demgan pemgalaman dan wawasan yang dalam seperti “Bulughul Maram” dan “Tasawuf Modern”. Sebagian lagi mewarnai zaman dengan pergulatan batin, perseteruan baik-buruk dan beberapa hal taktis (buku “How to”).
Setidaknya ada 8 delapan langkah yang diharapkan dapat menyalakan kembali rasa cinta pada buku hingga melek literasi kita (di setiap bidang) semakin baik.
Pertama, Jadikan Buku sebagai Hadiah. Dalam setiap momen keluarga dan pergaulan kantor/semacamnya, kita bisa memberikan hadiah buku pada orang yang kita maksud. Daripada hanya memberi papan bunga dalam pernikahan teman, ada baiknya kita beralih dengan membelikan buku sebagai hadiah.
Kedua, Menggalakkan pustaka di sekolah dan perpustakaan daerah. Tentu ini dengan serangkaian program yang terencana dan rapi. Tidak cukup hanya event sekali dalam setahun. Tidak cukup hanya dengan lomba-lomba semata.Adalah sangat baik pula bila rumah buku bisa terwujud di setiap desa.
Ketiga, Program beli satu buku dalam satu bulan. Kegiatan ini bisa dikemas oleh wali murid, oleh guru dan sekolah. Buku yang dibeli disesuaikan dengan kondisi anak dan lingkungan hidupnya. Buku tersebut tidak mesti buku yang tebal dan mahal.
Keempat, Membiasakan membawa buku saat bepergian. Walaupun ini klise di tengah maraknya smartphone, tapi tetap menjadi alternatif yang menyegarkan dan inspiratif bila kultur ini bisa terbangun dalam masyarakat kita.
Kelima, Membacakan buku. Hal ini terutama kepada anak kita di rumah, atau kepada para siswa di kelas. Lebih baik lagi bila buku yang dibacakan tersebut dapat selesai dalam beberapa tatap muka dengan judul sesuai kebutuhan.
Keenam, Menjadikan Buku sebagai Investasi. Perilaku ini akan mendorong kita untuk memandang buku sebagai sarana untuk eksis dan memilki nilai lebih, sebab buku juga bisa diwariskan.
Ketujuh, Membiasakan kegiatan menulis. Yaitu dengan memulai dari merangkum bahan bacaan hingga menyusun langkah kajian tertentu pada satu topik lalu memublis hasil tulisan tersebut secara personal atau komunitas.
Kedelapan, Memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai penggerak masyarakat dalam mencintai buku. Serta memanfaatkan layanan mesin pencari dalam membangun kerangka pengetahuan dan cita-cita peradaban yang penuh kemuliaan dan keberkahan.
Semoga kedelapan langkah di atas dapat menjadi acuan alternatif dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.[]
*Praktisi Pendidikan Islam. Inisiator Back to Book, Aceh Barat.





