ACARA penyerahan RS Indonesia pada pemerintah Palestina sangat terasa warna Acehnya. Di samping ada penyebutan Aceh berkali-kali. Yang paling kental adalah monolog Cut Nyak Dhien yang ditampilkan oleh artis nasional Ine Febrianty. Ine adalah perempuan Jawa yang amat menjiwai karakter perempuan Aceh. Bila di tahun 80-an ada Cristine Hakim yang menjadi pemeran Cut Nyak Dhien dalam film yang berjudul sama. Kedua artis yang bukan orang Aceh ini terasa menjadi Cut Nyak Dhien ketika memainkan perannya.
Mungkin Mer C memilih kisah ini sebab ada ruang Cut Nyak Dhien di RS Indonesia Gaza. Ruang yang peralatannya dibeli dengan sumbangan rakyat Aceh. Namun tentu sang pahlawan paling heroik kisah hidupnya. Cut Nyak Dhien yang tanpa kompromi atas keyakinannya. Monolog Cut Nyak amat terasa warna Acehnya. Penonton pun terpesona. Sepanjang hampir 30 menit selama pertunjukan tunggal itu berlangsung suasana gedung teater Taman Ismail Marzuki hening. Hanya sekali sekali terdengar orang batuk.
Ine mampu menyihir penonton untuk larut dalam kisah itu. Dengan latar panggung yang remang. Ine diiringi oleh gendang dan biola. Serta sesekali ditingkahi syair dalam bahasa Aceh. Iringan musik, syair, salawat, tangisan atau teriakan menambah suasana magis pertunjukan itu. Dengan alunan suara musik khas Aceh, sang aktris Ine seperti berdialog dengan dirinya sendiri. Pakaian serba longgar dan satu warna. Hampir tidak jelas warna baju di keremangan lampu panggung. Gambar latar juga tidak terlalu interaktif. Hanya gambar alam yang gersang atau gambar mesjid yang samar. Suasana panggung yang remang. Ine berakting dengan wajah kuyu dan bungkuk.
Gayanya seperti foto-foto Cut Nyak Dhien usai ditawan ketika duduk di dipan dengan badan membungkuk dan miring ke kiri. Kadang sang aktris menangis dengan suara rendah. Kadang dengan suara tinggi yang parau. Ia hanya bergerak beberapa radius ke tengah panggung. Bahkan kadang berguling sambil meratap. Ketika menceritakan pengkhiatan dan kematian. Suara Ine amat khas Aceh. Ketika ia menyebut 'T' dan kata “kaphe” amat medok Aceh. Sepanjang dialog tunggal hanya ucapan bismillah yang terasa bukan Aceh. Sebab Ine mengucapkan dengan vokal O, bukan A seperti biasa dalam dialek kita.
Monolog itu dimulai dengan cerita tentang rindunya Cut Nyak tentang kampung halamannya. “Walaupun aku buta dan lemah, namun aku tahu bahwa udara yang kuhirup ini bukanlah udara tanah yang kurindui,” begitu kira-kira monolog tunggal Ine tentang kerinduan Cut Nyak terhadap Aceh dari pengasingannya di tanah Pasundan. Dilanjutkan dengan kisah Makdum Sakti. Cerita tentang keteguhan moyang Cut Nyak Dhien melawan kezaliman penguasa. Dan kemudian dilanjut tentang perkawinannya dengan Teuku Ibrahim pada saat usia Cut Nyak Dhien 10 tahun.
Teuku Ibrahiim adalah seorang tokoh pejuang Aceh yang berasal dari Lamnga, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. “Pagi itu aku amat kuatir melepaskan Ibrahim ke medan perang, tidak biasanya ia mengatakan, Cut Nyak bila aku tak kembali maka telah kusiapkan 70 pengawal terlatih terhadapmu,” Ine bermonolog dengan suara parau dan tertekan. Dan keesokan harinya Teuku Ibrahim telah menjadi mayat. “Teuku engkau telah syahid, dan perjuangan ini akan tetap berlanjut.”
Episode selanjutnya tentang perjuangan dan perkawinannya dengan Teuku Umar. Dan bersama berjuang sampai Umar pun syahid akibat sebuah pengkhianatan. Dan kemudian Cut Nyak Dhien juga dikhianati Pang Laot. Dalam peran itu pascakisah kematian Umar, Ine yang berperan sebagai Curt Nyak Dhien memimpin perang. Ine menggunakan rencong dan mengangkat tinggi-tinggi. Mungkin ini simbol sebagai pemimpin perang.
Sepanjang pertunjukan itu dialog dan alurnya sedikit ada kesamaan dengan film Cut Nyak Dhien. Namun kedua kisah ini ada esensi yang berbeda. Bila film Cut Nyak Dhien diperankan secara kolosal. Dan alam yang menggambarkan keadaan semasa. Namun walau hanya di atas panggung, monolog Cut Nyak Dhien di teter TIM pada Sabtu malam lalu hampir sempurna. Hampir tidak ditemukan kejanggalan. Barangkali sang aktris keturunan Jawa ini belajar banyak tentang karakter Aceh dan sang tokoh yang diperankannya. Sehingga hampir sempurna.
Pada saat acara seremoni resmi saya duduk di bangku VIP bersama Karo Humas Pemerintah Aceh Frans Delian, kawan Almuniza dan Pimpinan Umum Serambi Indonesia Bapak Samsul Kahar. Usai acara seremoni saya diminta pengurus Mer C Aceh Ibu Ira Hadiati menemani Wagub Muzakir Manaf. Sebab rombongan Wapres langsung pulang. Wagub pun tinggal sendiri di deretan bangku VVIP. Namun saat saya datang tenyata di samping Wagub telah hadir dr Syarbaini Murad. Beliau prasedium MER C yang berasal dari Bireuen. Kami sempat berbincang. Saya duduk tepat di belakang keduanya.
Saat monolog itu kami bertiga terdiam. Banyak penonton mengusap mata termasuk saya. Wagub terlihat berapa kali menyeka matanya menggunakan syal berbendera Palestina. Usai pertunjukan itu dilanjutkan pidato kronologis pembangunan RS Indonesia di Gaza. Hanya sebentar dr Jose Rizal Jurnalis berpidato kemudian dia memanggil Wagub Aceh. Sambil menceritakan betapa murahnya hati orang Aceh sejak dulu. Wagub hadir ke panggung dengan pidato yang telah disiapkan humas. Beliau memulainya dengan kalimat “ini masih keturuanan Cut Nyak Dhien juga” sebelum beliau mengucapkan salam. Hadirin bertepuk tangan sambil mengucap amin. Dalam pidato singkat itu Wagub mangatakan bahwa rakyat Aceh bahagia bisa turut bersama-sama rakyat Indonesia lainnya menjadi bagian dari meringankan beban rakyat Palestina.
Usai pidato dan sedikit acara lain Wagub bertanya pada saya “apakah saya bisa mohon diri?” Waktu kira-kira sudah pukul 23, saya mengatakan mungkin saja sudah bisa sebab kelihatan acaranya hanya sekadar hiburan. Beliau pamit kepada dr Syarbaini. Saya dan Syarbini lantas mengantar beliau. Wagub sempat menanyakan ke kami, apakah pementasan monolog itu sudah pernah di Aceh. Apakah mungkin kita adakan di Aceh? Syarbaini menjelaskan monolog ini memang dipersiapkan untuk acara ini. Sangat mungkin dibawa ke Aceh. Wagub meminta saya untuk menfasilitasi bila mungkin hal ini dilakukan. “bagus bila ditonton generasi muda agar timbul kecintaan mereka atas sejarah dan perjuangan,” kata Wagub menjelang sampai di mobil dinasnya. Seorang teman nyelutuk” sang meunye ta nonton thon 2000, mandum teuh jeut keu GAM hahahha.“
Monolog Cut nyak Dhien memang menimbulkan kesan yang kuat. Betapa para pejuang kita amat teguh atas prinsipnya. Bukan karena urusan primordial kematian suami atau kerabatnya. Tapi lebih pada keyakinan martabat bangsanya. Adakah generasi kita kini menjadi penerus semangat itu? Ataukah kini kita telah jauh dari semua itu. Kini kita adalah makhluk hedonis yang mendewakan uang dan kekuasaan. Bahkan untuk itu kita siap berperang sesama teman seperjuangan kita. Seperti yang ditunjukkan para pemimpin kita saat ini. Wallahualam.[]


