BANDA ACEH – Di tengah suasana hiruk pikuk menjelang pemilihan kepala daerah 2017 mendatang, sosok Dahniar Dali S.H, M.H muncul dan menyatakan diri untuk maju sebagai calon Gubernur Aceh pada pilkada 2017 mendatang. Dahniar mengaku ingin maju lewat jalur independen atau perseorangan.
Menjawab pertanyaan tertulis dari portalsatu.com, Dahniar mengaku ingin ikut andil dalam pesta demokrasi lima tahunan ini karena panggilan nuraninya yang ingin memperbaiki Aceh dari segala karut marut.
“Sometimes, kita harus memilih antara mencari calon gubernur yang bijak dan menjadi gubernur yang cerdas. Sebagai seorang perempuan, saya berhak mengambil bagian dalam pencalonan diri saya sebagai calon gubernur yang mampu menunjukkan kecerdasannya, melalui tindakan yang bijak dengan tujuan mengedepankan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak azazi manusia,” katanya, Senin pekan lalu.
Untuk tujuan itu, perempuan yang tercatat sebagai PNS dan sedang menyelesaikan Program Doktor di Universitas Padjajaran ini mengatakan, ia berani memilih risiko dengan mengambil 'pedang' yang akan ia gunakan untuk memutuskan 'tali' yang menurutnya selama ini telah menjerat masyarakat melalui sebuah sistem.
Menurutnya, banyak hal yang harus diperbaiki karena ketidakpahaman para pengambil keputusan dalam menentukan sikap/tindakan tegas dalam melakukan perubahan.
Dengan kata lain kata Dahniar, Pemerintah Aceh selama ini dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya terkesan masih terpenjara oleh sistem. Sehingga mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat Aceh.
“Dalam hal ini dapat saya katakan bahwa tidak adanya penghormatan, perlindungan dan tidak terpenuhinya hak-hak masyarakat yang merupakan hak fundamental terbengkalai dikarenakan 'para aktor' menggunakan alasan yang keliru dalam mengimplementasikan tanggungjawabnya dari berbagai sektor,” katanya.
Terkait siapa calon yang akan mendampinginya nanti, Dahniar mengatakan ia tidak menentukan pasangannya harus berasal dari kalangan tertentu. Menurutnya, siapa pun dan dari kalangan mana pun berhak untuk mendapatkan kesempatan dan menjalankan amanah itu.
Namun dengan syarat yang bersangkutan harus memiliki komitmen dan integritas tinggi. “Bagi saya, siapa pun dan dari kalangan mana pun berhak untuk menjalankan amanah tersebut, selama yang bersangkutan tidak akan pernah mentuankan uang dan tidak akan pernah membudakkan dirinya demi upah, dengan alasan 'ini sudah ketentuannya dan inilah sistem'. Dan selama yang bersangkutan tidak menggunakan alasan yang salah dalam mengimlementasikan intelektualnya untuk tujuan yang kabur.”
Meski sejauh ini baru ia satu-satunya perempuan yang mengatakan akan maju di pemilihan calon gubernur Aceh, Dahniar mengaku tidak menjadi kandidat lainnya -yang semuanya pria- sebagai saingannya, melainkan sebagai partner. Dahniar menolak memberitahukan kapan ia akan mendeklarasikan pencalonan dirinya. Sejumlah programpun telah disusunnya, dan yang menjadi fokus utamanya adalah sektor pendidikan.
“Alhamdulillah pencalonan saya didukung oleh keluarga besar, dan tentunya harapan saya juga kepada seluruh masyarakat Aceh,” katanya.[](ihn)




