Oleh Taufik Sentana*
Lawatan Ustaz Abdul Somad (UAS) di Aceh akan segera berakhir setidaknya untuk momen Maulid Nabi Muhammad SAW. Dari berbagai daerah dan lokasi yang beliau kunjungi, masih tampak dan terasa antusiasme masyarakat dalam mengikuti dakwah dan tablig beliau. Bila menggunakan istilah budaya pop dan marketing, sajian dakwah UAS belum sampai di titik jenuh audiens (masyarakat, konsumen).
Walau dalam beberapa sesi, UAS mengganggap bahwa dakwah yang ia lakukan tidak istimewa, “Saya hanya menyampaikan kepada orang-orang yang sudah berkumpul di masjid, lapangan atau kantor”. Maksudnya, masih ada orang-orang di luar sana yang belum tersentuh dakwah dan hanya sedikit dai yang mengajak secara personal, dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengenalkan Islam. Merekalah dai yang sebenarnya, yang mengenalkan Islam secara langsung, yang mengajarkan Islam di balai-balai kecil di pelosok desa, begitu ucapnya merendah.
Penghargaan sebagai Tokoh Perubahan versi Republika 2018, menandakan bahwa aktivitas dakwah UAS telah menjadi ruang gerak tersendiri dan berdampak secara nasional.
“Gerakan” dan karakteristik
Dalam setiap sesi tablig dan ceramahnya , UAS selalu mengingatkan, betapa pentingnya membangun “gerakan” selanjutnya agar apa yang ia sampaikan memberikan efek yang lebih luas. “Setelah acara ceramah ini, mau apa?, Mesti ada yang menggerakkan umat ini, dari yang muda, para pemimpin, dst.”, begitu papar beliau. Upaya dan dorongan ini megindikasikan bahwa UAS menginginkan adanya mobilitas dan gairah massa ke arah perbaikan umat, baik secara individu ataupun kolektif.
Bila ditinjau dari segi karakteristik dan taksonomi dakwah, ada beberapa poin yang menjadikan “pendekatan” UAS membius para jama'ah.
Pertama, secara personal UAS termasuk tipikal pribadi yang terbuka, ramah, spontan dan sederhana. Dengan poin ini jemaah merasa sama kondisinya dengan UAS. Beliau juga tidak sekenanya menerima tawaran program televisi sehingga citranya sebagai dai tidak kabur menjadi “artis”. Secara manajerial, pendekatan timnya juga tidak begitu formalistik.
Kedua, materi kajian dan tablig beliau sangat membumi, sesuai dengan kondisi masyarakat umum. Walaupun materinya simpel, namun dibahas dengan referensi yang sangat baik, berimbang (tidak menyudutkan) dan penuh humor yang khas, yaitu humor spontan yang tidak dibuat-buat. “Kalau Anda bersedekah dua ribuan, bisa jadi naungan di hari kiamat seperti selembar koran di atas kepala saat matahari terik, yang banyak sedekah banyak pula naungan yang diterimanya”.
Ketiga, selain materi dakwah beliau yang sarat referensi (dari lintas mazhab, sejarah, pendidikan Islam dan sosio-kultural), secara metodologis, UAS sangat memahami bahasa kultural masyarakat sekitarnya, sehingga memudahkan masyarakat untuk menerima dakwah beliau.
Menurut penulis, ini titik poin yang penting, bicara sesuai kadar akal kaumnya dan memahami karakteristik masyarakat yang ia dakwahi, lalu menjadikan kedekatan kultural tersebut sebagai medium ungkap sehingga sajian dakwahnya membius dan memikat. Dari sini beliau menghubungkan betapa pentingnya kepemimpinan (Islam) dalam mewujudkan cita-cita masyarakat secara umum.
Semoga kehadiran dan aktivitas UAS benar-benar mewarnai perubahan masyarakat kita menuju perbaikan dan tamadun Islam. Dan hendaknya bermula dari Aceh, yang selalu menjadi pionir untuk geliat Islam di Indonesia.[]
*Taufik Sentana
Guru di MTs Harapan Bangsa Meulaboh. Staf Pengembang SMPIT Teuku Umar. Peminat Kajian Sosial Budaya.





