TAPAKTUAN – Bencana banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Aceh Selatan sejak beberapa hari lalu, tidak saja merendam rumah penduduk dan lahan pertanian. Namun, banjir juga mengancam keberadaan rumah penduduk yang berada di sekitar bantaran sungai.

Seperti terjadi di Kemukiman Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, misalnya. Sebanyak 9 unit rumah penduduk di Desa Koto Indarung dan Desa Siurai-urai terpaksa harus dibongkar oleh pemiliknya dibantu warga setempat pada Sabtu, 7 Januari 2017 lalu.

“Untuk menghindari bangunan rumah semi permanen berikut seluruh isinya hanyut disapu arus sungai, pemilik rumah dengan dibantu warga setempat telah membongkar paksa sebanyak 9 unit rumah pada Sabtu kemarin. Sembilan unit rumah tersebut terdiri dari 3 unit di Desa Koto Indarung dan 6 unit di Desa Siurai-urai,” kata Camat Kluet Tengah, Muktar Yatim saat dihubungi dari Tapaktuan, Minggu, 8 Januari 2017.

Muktar Yatim yang saat dihubungi mengaku sedang berada di Desa Siurai-urai, menyatakan, kemungkinan besar akan ada lagi langkah pembongkaran rumah di desa tersebut.

“Hari ini (Minggu-red) kemungkinan besar akan ada lagi pembongkaran rumah secara paksa oleh pemiliknya dibantu masyarakat, karena keberadaan rumah tersebut sudah sangat terancam,” katanya.

Alasan pemilik membongkar paksa rumahnya disebabkan karena erosi tebing sungai yang semakin parah.

“Akibat semakin parah terjadi erosi tersebut jarak antara tebing sungai dengan rumah penduduk tinggal 1 hingga 2 meter lagi. Bahkan dari 9 unit rumah penduduk yang telah dibongkar tersebut sebagiannya ada yang telah dihantam banjir. Sehingga untuk menghindari bangunan rumah beserta seluruhnya isinya hanyut dibawa arus sungai, pemilik rumah memutuskan membongkar paksa rumah mereka,” ujar Muktar Yatim.

Bencana banjir yang terjadi beberapa hari lalu juga telah mengakibatkan puluhan hewan ternak milik masyarakat Desa Koto Indarung dan Siurai-urai hanyut disapu banjir. Tidak hanya itu, banjir besar setinggi 1-2 meter tersebut juga mengakibatkan puluhan hektar lahan pertanian warga setempat terendam. Bahkan, sebagiannya juga turut hanyut disapu banjir.

“Puluhan hektar tanaman muda milik masyarakat kedua desa ini seperti jagung, cabai, kacang tanah dan lain sebagainya dipastikan gagal panen. Masyarakat sangat berharap kepada Pemkab Aceh Selatan melalui dinas terkait segera menyalurkan bantuan untuk mengganti tanaman pertanian mereka yang gagal panen tahun ini,” kata Muktar Yatim.[]

Laporan: Hendrik Meukek